Kumpulan Cerpen
Trending

Ibu Doel Dan Burung Kakatuanya

Sore ini  ku sempatkan diri duduk santai di berugaq belakang rumah. Sambil membuka lembaran sebuah majalah, sayup terdengar suara seekor burung. Sebenarnya suara itu bukan kali ini saja mengganggu telingaku. Hampir dua kali sehari, kalau tidak pagi hari, disore hari suara itu mengganggu pikiranku saat aku keluar rumah dan mencari angin di berugaq belakang. Suara itu kadang lemah kadang melengking seperti suara kemarahan.

Suatu sore di bulan Juni lalu, ku jumpai ibu pemilik burung itu. Ibu yang sebenarnya ku kenal lama sebagai tetangga yang baik hati, yang selalu menyenangkan karena keramah-tamahannya pada semua tetangganya termasuk padaku dan semua keluargaku. Aku merasa senang dan nyaman dengan ibu pemilik burung itu. “Bu, kira-kira berapa umur burung ini?” Ibu tetanggaku diam sejenak. Dihitungnya jarinya sambil komat kamit menyebutkan angka-angka. Kelihatannya agak ragu, karena sudah lama burung itu menjadi penghias rumah dan menjadi anggauta keluarganya “Tidak kurang dari tiga puluh tahun” Ia terdiam sejenak, lalu meneteskan air matanya sedih, mungkin mengingat sesuatu yang amat penting dalam hidupnya, bersama sang burung.

Burung ini, tidak menyerupai burung yang sebenarnya. Kini tinggal seperti seonggok daging hidup. Sekujur tubuh mungil itu, mulus, tanpa selembar bulu. Tidak ada jambul yang indah, tidak ada tubuh gagah dengan bulu putih berkilau, yang menggemaskan para pencinta satwa. Burung apa ini? Tak ada orang yang tahu nama burung ini. Tak ada yang percaya usianya tiga puluhan tahun. Dia kini hanya segenggam daging kemerah-merahan. Ia masih hidup dalam usia tiga puluh tahun. Walaupun tidak punya bulu, tidak punya jambul, dia masih hidup, bersuara, memanggil-manggil pemiliknya. Suaranya yang khas, kakatua, kakatua, memberitahu siempunya, burung yang tak berbulu, daging yang bergerak itu adalah seekor burung kakatua, tua renta. “Kisahnya panjang” kata ibu pemilik burung.

Orang itu bukan seorang pedagang burung atau petani miskin yang menukar burungnya dengan beras atau pakaian bekas. Bukan seorang miskin kelaparan lalu tidak tahu cara untuk mencari sesuap nasi karena busung lapar yang sedang melanda daerah itu tiga puluh tahun lalu. ”Dia bapak yang berseragam” cetus ibu pemilik burung. ”Dia orang penting”.

Dahulu dia menjadi kepala tentara di Dompu, lalu dipindahkan ke daerah ini dengan jabatan lebih tinggi. Beberapa tahun setelah menjabat di daerah ini, ia dan istrinya datang ke rumah sahabatnya, yang letak rumahnya hanya 250 Meter dari pendopo orang penting itu. Sahabatnya, seorang lelaki ramping, berkulit putih. Ia bersama keluarganya hidup baik dan terhormat sebagai orang penting di wilayah ibukota daerah ini. Ia dikenal sebagai orang yang suka bergaul, suka membaca dan kadangkala suka mengisi TTS di koran yang ada saat itu.

Dahulu jabatannya seorang kepala sekolah guru. Seantero kota kecil ini mengenalnya sebagai pak guru, pak kepala sekolah. Karena prestasinya dan kesabarannya, atasannya di Jakarta memberi penghargaan kepada beliau untuk menduduki jabatan lebih penting. Kini ia dipanggil bapak Ketua yang terhormat. Dia menjadi ketua dewan di daerah ini, sebuah jabatan penting kala itu. “Mungkin sudah ada pirasat” kata ibu tetanggaku. ”Soalnya tidak lama setelah kedatangan beliau kerumah ini, beliau sakit lalu dipanggil pulang oleh yang kuasa”.

Beliau meninggal dunia dalam jabatan terhormat yang melekat dipundaknya. Isteri pejabat itu ikut serta mengunjungi rumah sahabatnya sambil membawa si burung kakatua. Dia titipkan burung ini dengan wasiat lisan ”Jagalah ini burung dengan baik, seandainya kita tidak bertemu, anggaplah burung ini sebagai wakil ku disini, agar hubungan kita tetap langgeng, suci dan saling menyayangi”. Sungguh kata-kata yang tinggi nilainya, dibanding jaman ini yang tidak lagi mementingkan persahabatan. ”Hanya tentang untung dan kesenangan” gumam ku. Jaman itu jauh lebih baik dari  jaman  kita sekarang.

Beberapa tahun yang lalu sahabat dari bapak pejabat penting itu, seorang lelaki putih, ramping dan semampai, guru, kepala sekolah, ketua dewan, meninggal dunia. Banyak orang datang melayat. Murid sekolah, rekan sekerja dan para guru di kota itu berjubel mengelilingi rumah tinggalnya. ”Ada apa ini?”. tanyaku pada salah seorang pelayat. ”Pak Doel meninggal dunia. Innalillahi wa inna ilaihi rojiun”. “Dari Allah semuanya ada dan kepadanya kita kembali. Semoga beliau mendapat tempat yang layak atas segala kebaikan dan keramah tamahannya pada siapa saja”.

Ibu yang memelihara burung kakatua, penerima wasiat dari sang pejabat yang baik, agar menjaga dan menyayangi burung itu kini hidup sebagai seorang janda. Suaminya pak Doel yang kulitnya putih dan perawakannya semampai tetap dikenang sebagai suami yang baik, yang selalu hidup dalam cinta dan kasih sayang. Orang yang hadir dalam perhelatan kematian itu juga memandang heran burung tanpa bulu yang bertengger disebuah pangkring tua dan usang. Suaranya melengking. Dalam hati burung itu, “mengapa dua majikannya sudah meninggal, sedangkan dia sendiri hidup sebatang kara?”

Burung kakatua bu Doel sebenarnya menangis mengenang nasib almarhum pemilik utama dan kini pemilik kedua. Ibu Doel yang tetap mengenang suaminya sebagai lelaki lembut dan periang, tidak mampu melupakan masa manis yang selalu menggelayut dalam sanubarinya bila mengenang hidup bersama almarhum, “Kepada siapakah ungkapan rasa rindu sang isteri kepada almarhum?” Satu satunya teman yang paling erat hubungan batiniahnya adalah si burung kakatua.

Suara si burung, tidak lagi seperti dimasa mudanya. Kini suaranya tersengal. Tapi sungguh mengherankan diusia renta seperti itu terkadang mampu mengeluarkan suara keras, walau untaian hurufnya sudah tidak beraturan. Karena hasrat hidupnya yang tinggi, ia mampu bertahan melebihi tiga puluh tahun lamanya. Hidup bukan untuk hidup saja, Bagian dari hidupnya melihat semua kejadian dan perubahan yang terjadi di daerah ini. Sumber-sumber bahan kajiannya adalah semua ungkapan, semua pembicaraan tentang kehidupan dan perubahan yang terjadi di daerah ini. Jika pemiliknya ibu Doel sedang berbicara, sedang marah tentang suatu masalah, bercengkarama tentang ibu dan bayinya tidur di tenda akibat gempa, kemiskinan, pembangunan di kota, perubahan yang terjadi mulai dari halaman belakang rumah bu Doel hingga semua sudut kota kecil ini yang sangat berbeda dengan tiga puluh tahun lalu, ketika ia diwasiatkan oleh ibu Bupati agar dijaga dan disayangi, burung kakatua itu mendengarkan dengan baik.

Ibu Doel, dahulu adalah isteri pejabat daerah ini. Dia bergaul dengan semua orang yang menjadi teman kerja almarhum suaminya. Dia kini seorang janda. Dia menjadi tetangga dari tetangganya yang hidup rukun dan damai. ”Dia orang baik. Pasti lebih baik dariku”, celetukku diantara tidur dan jaga ketika aku menulis kenangan ini. Ibu Doel masih ingat, tiga puluh tahun lalu, kota ini tidak disebut kota. Hanya sebuah desa kecil saja. Bagaimana ibu kota sebuah kabupaten besar hanyalah sebuah desa? Memang sejatinya seperti itu.

Dari jaman bule penjajah, kota kecil ini sudah menjadi pusat kegiatan pemerintahan. Di belakang rumah bu Doel, dahulu memanjang tanah lapang yang disebut alun-alun. Tanah luas itu dahulu seperti paru paru kota kecil, tempat anak anak dan orangtua menghirup udara segar. Tempat berolahraga kelompok sepakbola terkenal di daerah itu. Dahulu banyak club sepakbola daerah ini dicetak di lapangan dibelakang rumah bu Doel. Pernah club kota kecil ini menjadi juara tingkat provinsi. Kini semua sirna, tak terdengar lagi tepuk tangan dan teriakan bangga atas kemenangan club kesayangannya. Walaupun si burung kakatua memiliki catatan tentang kemajuan kota ini, tapi ada banyak catatan yang disimpan tentang club sepakbola yang gulung tikar, tentang kegetiran hidup warga disekitar rumah bu Doel. Penduduk sekarang banyak sekali. Banyak mulut harus diberi makan. Makanan tidak bertambah, nafsu dan mulut terus bertambah.

Di belakang rumah bu Doel, sekarang sudah menjadi bagian kampung tetangga bu Doel. Beberapa kantor pemerintah dan kios pedagang telah memagari alun alun itu. Kini seperti halaman rumah yang tidak dirawat. Dedaunan kering berserakan. Banyak plastik bungkus jajan berterbangan. Alun-alun kelihatan kecil dan jorok. Tetapi mengapa semua tak peduli? Burung kakatua berteriak keras, walau kalimat sudah tidak teratur. Mungkin ia sedang marah pada keadaan yang disaksikannya.

Malam hari, kota kecil ini tetap seperti dahulu, sepi. Di taman dekat pendopo, pemuda dan putri putri muda sering berkumpul disetiap malam. Entah apa yang mereka lakukan. Tak ada yang peduli. Masing-masing memikirkan dirinya untuk kehidupan yang terus terhimpit. Lapangan kerja yang sulit. Pegawai yang banyak hutang. Petani yang kesulitan menjual hasil tanaman karena pasar istirahat akibat gempa bumi. Sementara beberapa perempuan separoh baya dan lelaki merokok di berugaq sederhana yang teronggok ditepi alun-alun. Mereka bergumam tentang kesulitan hidup. Mereka menunggu kapan ada lagi pertunjukan di alun-alun. Soalnya jika ada pertunjukan, ada lapangan kerja sambilan. Mereka termangu, tidak ingin menengok masa depan. Semakin dilihat masa depan dan keluarganya, semakin jelas jalan suram yang menunggunya. ”Aku pasrah” kata salah seorang, sambil menghisap rokok pilitan  miliknya.

Ibu Doel jarang keluar rumah. Paling menengok tetangga sebelah. Mungkin ibu Doel juga tidak pernah jalan-jalan ke taman dekat pendopo melihat para pemuda menghabiskan malamnya ”Untuk apa?” Aku sudah tua”. Jawabannya lugas dan tegas. Tetapi bukankah ada orang setua dia juga duduk menikmati akhir hari kehidupannya di pinggiran alun-alun? Tidak semua sama. Bu Doel lebih baik tinggal dirumah bercengkerama dengan keluarga, bercengkerama dengan burung kakatuanya. Ia seorang perempuan baik yang menyayangi keluarga dan burung kakatuanya.

Dalam berbagai mitologi agama, banyak kisah yang mengaitkan kebaikan dengan seekor burung. Seekor burung gagak, diutus oleh Tuhan untuk mengajarkan anak adam yang melakukan pembunuhan. Burung gagak menjadi guru manusia untuk cara menghormati mayat dengan contoh yang diberikan si burung gagak. Banyak Negara di dunia memakai burung sebagai lambang negaranya, seperti Indonesia, Amerika dan negara lainnya. Burung tidak pernah bohong. Tak perlu didiskusikan. Burung itu jujur. Tak perlu dipertengkarkan.

Nabi Sulaiman anak dari nabi Daud, memerintah di Israel pada 963 SM, dikenal menjadi raja yang arif dan bijaksana. Negaranya menjadi makmur, karena keahliannya memimpin dengan jujur dan adil, Nabi Sulaiman disebutkan di dalam kitab Injil atau Alquran sebagai raja yang diberikan kemudahan oleh Tuhan berkomunikasi dengan semua mahluk hidup. Nabi Sulaiman menugaskan seekor burung kecil membawa pesan penting kepada raja lalim disekitarnya. Raja dan nabi Sulaiman membawa kemakmuran dan keadilan bagi warganya. Pernah suatu hari dua orang perempuan datang kepadanya. Yang satu membawa bayi yang masih hidup, Satunya lagi membawa bayi yang telah mati. Keduanya bertengkar tentang siapa yang memiliki anak yang masih hidup. Ketika Sulaiman mengambil keputusan untuk membagi dua tubuh bayi yang masih hidup dengan sebilah pedang. Salah seorang ibu mengatakan janganlah bayi ini dibagi dua, lebih baik berikan kepada perempuan yang lain. Sulaiman memberikan bayi itu kepada seorang ibu yang menolak bayi itu dipotong menjadi dua. Ibu yang menyayangi bayi itu pastilah ibu kandungnya. Nabi Sulaiman juga dikenal di dalam AlQuran sebagai orang yang diberikan kekuatan oleh Tuhan untuk berkomunikasi dengan jin. Dan semua makhluk yang tak mampu dijangkau manusia biasa.

Burung kakatua bu Doel, kini usianya bukan tiga puluh tahun lagi. Sesudah tujuh kali pemilihan kepala daerah, jika dihitung lima kali tujuh berarti usianya 35 tahun. Mungkin 40 tahun. karena tidak dihitung berapa usianya ketika ditangkap dihutan Dompu sebelum pemimpin itu dipindahkan ke daerah ini. Luar biasa. Ada burung berumur 40 tahun. Belum ada di dunia manapun. Kenapa? Adakah dia utusan Tuhan? Untuk apa? Burung kakatua bu Doel tidak berceritra apapun pada siapapun, Ia hanya seekor burung yang melalui jalan panjang kehidupannya penuh penderitaan. Ia dipisahkan dari keluarganya, dari lingkungannya dipinggiran hutan di daerah Gunung Tambora. Burung kakatua bu Doel dipanjangkan umurnya oleh Tuhan untuk memberi catatan panjang perjalanan masyarakat ini. Kakatua bu Doel tahu semua yang dilakukan oleh orang disekitarnya, Meninggal dunia orang baik disekitar kampong dekat rumahnya. Seorang tokoh agama meninggal diakhir 1997, pertikaian dan saling membunuh karena perbedaan organisasi, beberapa pejabat Negara yang berurusan dengan hukum, sulitnya lapangan kerja bagi penduduk disekitar alun  alun. Burung itu kuat ingatannya. Matanya melebihi kemampuan manusia. Burung itu mandiri, tidak suka meminta minta. Ia mencintai anak-anaknya. Dia membuat sarang sendiri, tanpa bantuan dari siapapun juga. Dia bangun pagi-pagi, dan kembali ke sarangnya bila senja datang. Burung juga bisa bercanda dengan teman-temannya. Burung bernyanyi menghibur manusia. Tuhan maha adil dan bijaksana. Memilih burung untuk jadi guru manusia. Mungkin burung bu Doel akan diperpanjang usianya oleh Tuhan melebihi umur manusia di daerah ini. Ia akan membuat catatan yang adil dari setiap peristiwa yang dilaluinya. Tuhan tidak mengutus para politisi yang sering berbohong. Tuhan telah memilih burung bu Doel sebagai saksi sejarah di daerah ini.

Selong, 7 Nopember 2018

Menampilkan lebih banyak

Artikel terkait

Tinggalkan Balasan

Close
Close