Kumpulan Cerpen
Trending

Suatu Siang di Selat Madura

Siang ini baru pertama kali dalam hidupku melihat dari dekat sebuah selat yang dalam ceritra babad pernah menjadi pusat perseteruan tiga kekuatan. Kekuatan kompeni, raja Madura dan Dewa Ketut dari Bali. Siang ini mendung, tapi dalam kapal yang ku tumpangi terasa sangat panas, seakan membawaku pada masa perang di selat Madura entah tahun berapa yang lalu.

Sebenarnya, perjalanan ini cukup melelahkan, tujuh belas jam meringkuk dalam ruangan kecil, diombang ambingkan gelombang musim hujan yang ganas. Mengarungi tiga selat dan dua laut yang berbeda, dibayangi dua gunung tinggi di Indonesia, diejek beberapa pulau kecil, sambil mengucapkan sumpah serapah pada siapapun yang lalu lalang mengusik ketenangan alam dan penduduknya, karena kapal kapal yang lewat sering kali meninggalkan sampah plastik, suara keras, dan sisa bahan bakar yang sangat mengganggu.

Memang sejak semula ada masalah. Seorang wanita muda, berteriak memaki anak kapal. Truk besar yang akan keluar dari perut kapal melalui pintu besi besar menyita waktu puluhan menit, pasalnya muatan truk menyundul bagian pintu, sementara penumpang yang turun dan naik merasa terganggu. Janji bahwa kapal akan berangkat jam 14 siang, tertunda hingga jam 18 senja. Penumpang menggerutu, sementara anak kapal diam saja. Aku dan teman setia ku tetap sabar, karena memang ku bertujuan melatih kesabaran.

Baru saja duduk di kursi penumpang, seorang lelaki setengah baya bangun dan menegur. ”Sudah ada duduk disini pak”. Siapa? ”Rombongan 18 orang”. Aku ngeloyor ke bagian kiri dek penumpang, seorang pemuda bangkit dan menjelaskan ”Ada orang disini”. Siapa? tanyaku. ”Ada empat orang teman”.

Ada banyak bangku kosong, tetapi semua mengaku telah ada pemiliknya. Lalu aku dan teman setiaku duduk dimana?. Aku berusaha sabar, karena Aku sedang melatih kesabaran. Anakku selalu memperhatikan keamanan dan keselamatanku dalam setiap perjalanan. ”Pak lebih baik naik pesawat terbang, jika pakai kapal laut terlalu lama di jalan, nanti bapak kelelahan”. ”Aku tahu, tapi aku melatih kesabaran” jawabku singkat. Anak yang sudah kenal ayahnya tersenyum.

Aku sering membawa anakku, pernah kuajak anakku berkemah. Bahkan ketika anakkku berumur delapan tahun, pernah kuajak mendaki gunung Rinjani, walaupun hanya sampai di danau Segara Anak. Mereka melanjutkan kecintaannya pada alam ketika anakku sudah SMA bahkan sampai di Universitas. Dia sering mencritrakan semua gunung yang pernah didaki. Ada beberapa gua di Jawa juga sudah ditelusurinya. Anakku juga seorang pengelana, karena itulah ia tersenyum ketika ku memutuskan harus naik kapal ini walau 18 jam terombang ambing di laut lepas.

Aku berputar di sekeliling dek penumpang hingga buritan. Tak ada keramah tamahan, tak ada senyum yang kulihat dari setiap individu yang ada sesama penumpang. Beberapa pasangan muda mudi menyisakan senyum dan canda tapi untuk dirinya saja, sementara aku dan teman setia ku seperti pengelana yang tidak memiliki tempat tinggal di masyarakat kapal ini. Masing masing ingin memiliki bagian dari kapal ini, padahal pemiliknya sendiri sedang berada di rumah atau bahkan sedang menghitung uang dari ongkos semua penumpang dan juga dari kapal kapal lain yang dimilikinya yang sedang mengarungi bagian laut yang lain.

Di dekat tangga, berdiri seorang berseragam dengan beberapa tulisan dan simbol di dada, benakku yakin dia adalah petugas kapal ini. Anak kapal. Di Malaysia semua petugas dalam kapal dipanggil anak-anak kapal. Aku bertanya kepada anak kapal berseragam. “Dimana lagi kamar tempat duduk penumpang?”. ”Sudah tidak ada lagi” jawabnya.

Banyak kursi yang dikuasai oleh penumpang, bukankah tugas si berseragam untuk menertibkannya? ”Kalau mau menyewa kamar, masih ada sisa” Dia tidak melayani keluhan penumpang tentang ketidak adilan yang terjadi dalam masyarakat kapal ini, malah menawarkan kamar sewa. ”Berapa?”. Maksudku berapa harga sewa kamar.

Aku baru tahu ada kamar sewa di kapal barang. Ini bukan kapal pesiar, tetapi kapal penyeberangan untuk orang dan barang. ”Lima ratus ribu”. Si berseragam dengan mantap menyebut angka lima ratus ribu, tanpa menyebut rupiah nya. Dalam benakku, jumlah itu sepadan dengan sewa hotel berbintang tiga di Surabaya atau di Jakarta. Dalam bayangan ku sewa ini cukup mahal, tetapi siapa tahu kamarnya melebihi bintang tiga itu.

Kamar itu berukuran 2,5×3 meter. Sebuah dipan kecil, lemari pakaian, tv, kamar mandi sederhana. Ruangan ini lebih baik dari sofa dan kursi yang sudah dikuasai oleh jagoan jagoan penumpang yang merajalela di dalam kapal ini. Di pintu kamar tertulis, masinis tiga, sebagai maklumat kamar ini adalah milik masinis, pejabat penting di kapal ini. Ruangan masinis dan anak kapal lainnya ramai disewakan. Penyewanya pastilah orang berduit. Aku sendiri terpaksa menyewa, karena aku telah diusir oleh penumpang yang sudah mengangkangi tempat duduk penumpang. ”Serakah, korupsi, jahat, tak tahu diuntung” aku menuduh mereka, hanya dalam pikiran. Tapi tak apa, karena aku sedang menguji kesabaran.

Sambil memandang langit-langit ruangan sempit ini, aku merenung. Dimana masinis itu sekarang?. Apakah sedang menjaga mesin kapal?. Apakah sedang tidur?. Dimana?. Mengapa kamar ini disewakan? Tetapi juga aku bertanya pada diriku, mengapa aku peduli tentang kamar ini?. Apa urusanku? aku membayar ongkos kapal, tetapi aku juga menyewa kamar masinis. Terserah. Tetapi mengapa si pejabat kapal harus menyewakan kamarnya?, tidur di sembarang tempat, padahal ia seorang pejabat. Mungkin ia butuh tambahan pendapatan untuk membiayai anak istri yang ditinggalkan berlayar. Gajinya pasti tidak mencukupi untuk hidup yang layak sebagai seorang pejabat pelayaran yang sangat penting. Jabatan ini menjadi sangat penting karena menyangkut keselamatan ribuan orang pengguna moda pelayaran. Jika gajinya sekadar untuk hidup sederhana, sedang pemilik kapal selalu menambah armadanya dengan membeli kapal baru setiap tahun, maka berarti diatas kapal ini sedang terjadi ketidak adilan. Tenaga para masinis, muallim, nakhoda dan anak kapal lainnya digaji sangat kecil, sedang pemilik kapal terus menambah kekayaannya. Bagaimana kalau para pejabat ini mogok di tengah laut? Sambil menengok kiri dan kanan. mencari posisi pelampung, bilamana terjadi hal hal luar biasa. Gumam ku agak melantur dan akhirnya ku terlelap di kamar masinis kapal laut LG yang besar itu.

Jam sebelas siang di hari Sabtu, 16 jam setelah mengarungi dua laut dan tiga selat yang berbahaya, dari jendela kecil tampak wajah laut yang berbeda. Inilah Selat Madura. Puluhan pulau kecil yang tidak terlihat pada buku atlas, seakan ikut menghantar kapal walaupun mereka tidak senang dengan hiruk pikuk yang merusak ketenangan lingkungannya. Kapal barang, kapal tangker, kapal perang, sampan, kapal tunda, kapal keruk, kapal berlabuh, kapal berlayar menyemut di areal selat legendaris ini. Beberapa mil dihadapan kapal LG yang besar, membentang seperti garis tipis dalam bayang awan hujan yang mulai menutupi langit. Suramadu, bangunan anggun dari kredit Cina, untuk dua pulau yang dahulu berseteru dalam perang Trunojoyo.

Selat Madura, dahulu tidak punya nama. Hanya Belanda yang suka mencatat dan memberi nama tempat. Belanda sering terlibat pada tempat yang dicatat dalam buku harian pesohor para serdadu. Cuaca di Selat Madura sering berubah. Tadi siang panas terik, jam dua belas langit ditutup awan. Tempat ini sungguh dinamis. Menjadi pusat paling menjanjikan. Menjadi pusat pertikaian, perebutan rizki, pengaruh politik, ekonomi, sosial dan masa depan wilayah. Jembatan Suramadu dijual oleh para penguasa sebagai prestasi politik, sementara itu rakyat awam tak memahami gejolak pertikaian multikompleks, sengit dan kejam yang ada di sekitarnya. Tanah yang dahulu dimiliki para petani garam di Madura, lahan yang dimiliki petani padi dan tambak sepanjang Probolinggo, Pasuruan sepanjang pesisir pantai Selat Madura, kini telah berganti tuan. Orang kaya baru, koruptor, kapitalis telah mengangkangi Selat ini. Ini hukum besi ekonomi, siapa kuat, akan memangsa yang lemah.

Empat ratus tahun yang lalu, tempat disekitar selat Madura, menggelegak dalam belanga politik, ekonomi, kedigdayaan dan pengaruk satu dengan yang lain. Tentu saja secara fisik dahulu dan sekarang sangat berbeda. Raden Trunajaya putra Demang Malaya di Sampang, kini menjadi kabupaten bagian Timur Madura, sebelah Utara kapal yang sedang melaju menuju Sura Baya, kapal LG yang ku tumpangi.

Truna Jaya adalah keponakan dipati Cakraningrat di Sampang. Tokoh legendaris dalam babad Tanah Jawa dahulu menyiratkan ceritra yang berulang sekarang. Selat Madura di jaman Taruna Jaya telah menjadi medan perang dunia di abad XVII yang lalu. Raja Mataram yang bermaksud menaklukkan semua negara mandiri yang ada di Jawa dan luar Jawa, ternyata mendapat perlawanan sengit dari putra Selat Madura kala itu. Istana kerajaan Mataram pernah dikuasai oleh tentara Truna Jaya dibantu oleh tentara Kraeng Galesung dari negara Makasar. Putra raja Mataram Adipati Anom pernah berencana melakukan kudeta terhadap ayahnya, dengan berpura pura bersekutu dengan Truna Jaya. Tetapi Truna Jaya memiliki agenda tersembunyi untuk membangun kekuatan sendiri. Selain dari Makasar Truna Jaya bersekutu dengan tentara dari Buleleng, Bali.

Semua pertikaian diantara raja-raja Nusantara dicermati oleh pihak Kompeni Belanda. Pada akhirnya Belanda yang meraup kemenangan dari persaingan antar bangsa di Selat Madura ini. Persaingan politik dan ekonomi di Selat Madura adalah perebutan pengaruh antara pemerintahan agraria dengan negara maritim pada saat itu. Negara pesisir seperti Jepara, Pekalongan, Pasuruan, Madura, walaupun pemerintahannya dikuasai Mataram, tetapi hubungannya dengan penduduk setempat seperti api dalam sekam, letupan keras, keputusasaan yang berakibat pada menjual prinsip terbuka dengan jelas, ketika Adipati Anom meminta bantuan pada Belanda untuk mengalahkan kerajaan lain termasuk adiknya sendiri Pangeran Puger.

Sekarang di Selat Madura, ada ribuan kapal lalu lalang dengan tujuan yang berbeda. Sementara dahulu ada adipati yang pernah mengusir keponakannya karena takut disaingi dalam kekuasaan, melihat dukungan rakyat yang begitu kuat pada Truna Jaya. Sekarang juga ada adipati yang ditangkap karena memungut banyak upeti dari tambang minyak lepas pantai di Selat Madura. Sekarang ada adipati di daerah pesisir Selat Madura diamankan kaarena menjual pengaruh karena jabatannya. Dahulu tidak ada KPK di Selat Madura, tetapi dahulu ada penilaian dari masyarakat tentang kebaikan dan kedurjanaan. Tetapi rakyat Selat Madura sekarang, tidak beda dengan di masa lalu Mereka dahulu dijadikan hulubalang, sentana, tukang panggul perlengkapan perang, sekarang menjadi tukang panggul karung barang di pelabuhan.

Jam 13 waktu Surabaya, kapal merapat di bandar Tanjung Perak. Pak Rosita, si pejabat kapal berseragam, menyodorkan kartu namanya. ”Jika bapak pulang nanti, akan ku sediakan ruangan yang lebih besar”. ”Terima kasih mas”, aku ngeloyor keluar lalu masuk ke peron. Taksi sewaan telah menyambut kedatanganku setelah melalui selat Madura yang panas dingin itu.

Selong, 01 Januari 2019

Menampilkan lebih banyak

Artikel terkait

Tinggalkan Balasan

Close
Close