Kumpulan Cerpen
Trending

Perempuan Batu Apung

Perempuan itu, seperti merangkak dengan  kedua tangannya seperti  sedang  menggapai sesuatu. Walau  di kiri kanannya tumpukan tanah berdebu  namun  tak dihiraukannya, rambutnya tampak  acak-acakan  bermandikan  debu bagai jelaga  yang membalut seluruh tubuh dan pakaian kumal  pembungkus badannya yang kurus. Ia tak menghiraukan tubuhnya berbalut debu bahkan ketika terik panas disiang itu. Kegiatan ini dilakukan perempuan itu  sepanjang hari,tanpa bersuara,tanpa rintihan,tanpa penyesalan.

 Dua orang anak kecil, usianya 3 dan 4 tahun, duduk menunggui ibunya di sebuah dangau reot kecil terbuat dari daun kelapa dan ranting pepohonan kering. Setiap hari kedua anaknya dibawa ke padang itu, tidak sekolah, tidak ada keluarga yang membantu memelihara. Tiga tahun lalu, suaminya telah menceraikan perempuan itu, tanpa harus pergi ke pengadilan atau kerumah penghulu kampung. Cerai, ya cerai. Perempuan itu lalu pergi dan tinggal di sebuah gubuk kecil sederhana, letaknya ditepi kampung. Itupun bukan rumahnya sendiri, ia nyodoq pada rumah saudara misan nya. Ia harus bekerja setiap hari untuk bertahan hidup dan sekadar makan bagi kedua anak balitanya.

Sejak kedua orang tuanya meninggal dunia, lalu dicerai suaminya, perempuan itu menanggung beban hidup teramat berat. Ia tidak menerima warisan apapun, karena orang tuanya miskin. Suaminya yang buruh serabutan, selain miskin juga bengis tak berperikemanusiaan. Ia ceraikan isteri dan di telantarkan kedua anaknya, lalu pergi entah kemana. Perempuan itu harus mempertahankan hidupnya dan kedua anaknya yang masih kecil. Ia harus bekerja, bekerja keras, karena penghasilannya sangat tergantung pada kegigihannya. Jika tidak bekerja keras maka uang Rp. 20.000, tidak akan didapat, lalu perutnya dan perut kedua balita anaknya akan kosong hari itu juga. Ia akan kelaparan. Perempuan itu seorang kuli penggali batu apung.

Pernah pada suatu hari, ia diusir dari tempat memburuh, setelah ketahuan membawa anaknya ke ladang berdebu itu. Soalnya bos batu apung menganggap anak tersebut mengganggu pekerjaan dan akan mengurangi keuntungannya sebagai bos baru di kampung itu. Memang kedua anak tersebut kadangkala menangis karena lapar dan bisa jadi menjadi takut karena tempat itu cukup sepi. Kedua anak tersebut hampir tak pernah ada yang menegur nya, apalagi memberikan sesuatu padanya. Masing masing sibuk dengan urusannya dan sunyi dari rasa kasihan. Sang ibu tetap membawa anaknya dan berusaha agar anaknya tidak mengganggu tuan bos yang sedang mencari untung besar. Pasaran batu apung sekarang sedang bergairah, hingga harus melipatkan produksinya agar bos utamanya di kota tidak putus kontrak dengan dirinya.

Perempuan itu menerima keadaan dirinya sebagai nasib. Tak pernah mengeluh. Tak pernah menyalahkan siapapun, termasuk suaminya yang menceraikan dan membuat ia dan kedua anaknya hidup terlunta lunta tanpa masa depan apapun. Tak ada yang peduli. Namun ia hidup apa adanya, penuh tulus mempertahankan kehormatan dirinya dan memberi perlindungan pada kedua anaknya.

Pakaiannya, selembar baju lusuh dan satu kain sarung, adalah pakaian kerjanya. Setiap hari pakaian itu menjadi bertambah tebal karena menempel debu dari batu yang harus dibersihkannya sebelum dimasukkan kedalam karung. Di pondok reot tempatnya tinggal setiap malam, tak tampak barang yang bernilai uang, Hanya satu panci  kecil usang  dan beberapa piring plastik. Memasak dengan kayu,karena tak mampu membeli gas. Dia dan kedua anaknya tidur di sebuah malaq dari bambu, beralaskan tikar pandan yang mulai menua dan bantal penuh daki. Tak ada barang yang dibawa selepas suaminya menceraikannya dan meninggalkan rumah suaminya yang sederhana, yang letaknya hanya ratusan meter di kampung sebelah.

Tuhan merahasiakan sesuatu bagi manusia. Tuhan menguji semua manusia. Tuhan memberi kesulitan dan kemudahan sebagai ujian bagi manusia. Tuhan menyembunyikan benda di dalam tanah agar dengan ilmunya manusia berusaha mencarinya, Agar manusia berpkir dan  mengamalkan keadilan, agar membagi rizki itu untuk semua sesama manusia. Para tuan guru juga ucapkan kata kata itu, tetapi dari panggung kemewahan, Para politisi juga mengucapkan kata itu, untuk meraih suara dalam setiap pemilu, padahal mereka melihat kemiskinan di sepanjang jalan yang dilaluinya.

Di bawah debu tebal yang mengelilingi Gunung Rinjani, Tuhan menyimpan batu apung. Di bawah gambut Borneo, Tuhan letakkan miliaran kubik batu bara. Dibawah padang pasir Sahara, di Arab Saudi, Irak, Kuwait, Siria, Yaman disembunyikan minyak dan gas. Bahkan jauh disana di bawah dasar laut, Tuhan letakkan jutaan barel minyak, silahkan manusia cari sendiri, nikmati tapi jangan lupa itu bukan untukmu sendiri, Tuhan menyuruhmu membaginya pada orang lain, orang miskin seperti Inaq Umi, si buruh batu Apung itu.

Batu apung sesungguhnya, sejenis batuan beku yang di dalamnya berisi gelembung udara sehingga bisa mengapung di dalam air. Sejuta tahun lalu, ketika Gunung Rinjani meletus, sejumlah lava pijar menjadi dingin lebih cepat, sehingga gas di dalamnya tak sempat lolos, lalu membentuk rongga.

Sejuta tahun kemudian, batu terapung itu telah menjadi komoditas utama manusia Sasak yang diberikan Tuhan padanya untuk diolah dan di nikmati, sama seperti minyak, batubara, gas, bijih emas di Batu hijau. Sayang sekali,mereka menjualnya sebagai bahan mentah lalu melahirkan beberapa gelintir toke  toke baru yang mempekerjakan  ratusan bahkan ribuan orang Sasak miskin seperti Inaq Umi dari  Tampes. Hal seperti ini juga terjadi di Borneo dan di Gumi Umarmaya, minyak dijual untuk membeli senjata, lalu senjata digunakan untuk membunuh saudaranya di Yaman, Sirya, Irak dan tempat lain, sebagai bukti penghianatan terhadap rencana Tuhan yang sesungguhnya

Mereka, para raja minyak, para toke batu apung, para cukong batu bara memamerkan kemewahan diatas kekejaman yang direncanakan. Tidak beda dengan Hitler yang memamerkan kekejaman untuk peroleh kuasa atas politik dunianya. Tak ada yang bertahan lama, semuanya akan berputar seperti roda. Yang kekal adalah kuasa Tuhan. Kebenaran hakiki dari Tuhan. Itulah keadilan, keadilan.

Gunung Rinjani, ditugaskan Tuhan memuntahkan batu apung untuk orang Sasak agar diolah untuk mereka sendiri, tapi jangan lupa ada juga saudaramu disana, orang lemah, miskin tak punya apa apa, karena itu tolonglah mereka. Itu pesan Tuhan, ketika Gunug Rinjani ditugaskan membuat batu apung itu. Tuhan sudah rencanakan batu apung sempurna ada di Gumi ini, karena itu tak diberinya minyak bumi, batubara atau gas. Agar orang Gumi ini mengerti rencana Tuhan.

Orang di Gumi ini telah banyak lakukan kelalaian. Mereka hanya berpikir pendek, hanya untuk dirinya, paling banter untuk kroni dan kaki tangannya. Mereka lebih suka menjual nama Tuhan, agar mereka mendapat pujian, mendapat manfaat dan keuntungan. Mereka tidak kasihan pada Inaq Umi walaupun kedua matanya memelototi keadaannya. Tetapi sendainya kisah Inaq Umi disiarkan dilayar TV, mereka akan berlomba membantunya, agar Tv juga menyiarkannya sebagai dermawan. Mereka tidak memerlukan Tuhan, mereka menghendaki ketenaran. Dunia ini  dijejali dengan orang munafik yang datangnya dari semua lapisan masyarakat, mulai dari suami Inaq Umi, tetangganya, para kiayi, pengurus mesjid, para ulama yang banyak mendapat gaji sebagai bintang televisi, para kiayi politisi, para kiayi selebriti. Inaq Umi hanyalah masalah kecil, tugasnya lebih besar, berpidato bertanding gaya, bertanding menghafal ayat ayat Tuhan, tak peduli berapa jauh jarak antara kata dan perbuatannya.

Pagi hari Jumat, jam 9 pagi, di musim panas ini, tiba tiba langit mendung. Beberapa orang berkerumun di sudut kampung, mengelilingi rumah bambu reot yang ditinggali Inaq Umi dan kedua anaknya yang masih kecil. ”Ada apa ini?.” aku bertanya pada orang yang berkerumun. Jumlahnya tak sampai sepuluh orang. ”Inaq, meninggalInnalillahiwainnailaihrojiun. Perempuan itu meninggal dunia. Sejak kemarin ia tak keluar bergelimang debu, mencari sesuap nasi, terbang bagai burung untuk mencari makanan untuknya dan kedua anaknya. Tak seorangpun dari kerumunan kecil itu yang tahu persis sebab atau penyakit yang diidapnya, tiba tiba anaknya yang sulung menangis sesenggukan keluar dari pondok reot nya. Barulah kerumunan itu tahu tentang kepergian menyedihkan  Inaq.

Tak perlu marbot membaca berita duka melalui pengeras suara di mesjid, karena tak ada lembaran tulisan tentang berita duka yang harus dibacanya. Siapa yang akan membuatkan nya, ia tidak jadi apa apa, kecuali seorang miskin papa. Ia bukan orang kaya yang banyak kerabatnya. Ia bukan pejabat yang banyak bunglon mengelilnginya. Bahkan untuk membeli kain kapan saja ia tak mampu apalagi memberi makan untuk orang berzikir di pondoknya sampai hari ke sembilan. Apalagi menyediakan semua pakaian, tikar dan bantal, barang pecah belah yang akan diberikan kepada pemimpin doa, sebagai    pelayaran, untuk bekal selama menuju alam barzah. Semuanya tak ada, bahkan selembar kain pun ia tak punya, kecuali kain lusuh yang melekat pada jenazah nya.

Anehnya, kerumunan kecil yang berdiri di pondok itu, juga dari kelompok tak mampu. Merekalah yang memutuskan akan segera menyelesaikan penguburan jenazah. Mereka menggali kubur di pinggiran kampung, mereka mencari beberapa batang bambu untuk gorong batang. Mereka juga urunan untuk membeli selembar kain putih, sebagai pembungkus jenazah. Suatu pemandangan aneh, hanya orang miskin yang peduli pada orang miskin. Mungkin mereka merasakan arti kemiskinan, sementara orang lain tak pernah merasakan sebagai orang miskin, Tetapi mustahil orang tak bisa membedakan orang mampu dan tak mampu bahkan mereka yang tak percaya Tuhan, masih memiliki perikemanusiaan? Bukankah pada diri manusia Tuhan berikan rasa kasihan? Tapi tidak semua orang miskin sama, seperti suami Inaq Umi yang malang. Toke batu apung tempat Inaq memburuh, tak perlu memberi uang duka, apalagi melayat ke pondoknya. Hari Inaq meninggal, besok masih banyak buruh yang bekerja di tempat ini. Tak perlu BPJS datang menyantuni, karena toke tak pernah membayar iuran para buruh nya, apalagi sekelas Inaq yang buta huruf itu.

Para ustaz  mengatakan semakin banyak orang datang kerumah orang meninggal, mengantarkan jenazah nya, mensolatkannya, maka orang yang meninggal dunia itu semakin ringan bebannya, atau dosa dosanya akan diampuni. Aku tidak melihat satu ustaz pun datang kerumah Inaq yang malang, Aku tidak melihat satu ustaz pun di kampung itu ikut mengantarkan jenazah Inaq ke kuburan kampung. Setelah orang orang miskin kampung itu selesai memasukkan jenazah ke liang lahat, marbot mesjid mau bacakan doa sederhana, itupun setelah dibujuk berulang kali. Inaq Umi bukan siapa siapa, bukan orang kaya, bukan orang penting, bukan pejabat, tak apa tidak dihiraukan, Mati, ya mati saja, kalau mau datang, datang saja dan kalau tidak mau, tidak apa. Tak ada untungnya, tak ada ruginya,

Ustaz yang beri pengajian di mesjid rajin sekali menyuarakan pahala mendatangi orang mati. Ustaz itu sering diundang berceramah diatas kuburan, namanya kata kata takziah, bila ia diundang keluarga orang penting, semakin penting jabatan orang yang mati, semakin panjang sambutannya. Tak sudi ia berceramah di kuburan orang miskin, karena tak ada undangan, tak ada jemputan dan tak ada amlop biaya. Semacam industri kecil dengan bungkusan agama, apalagi menanyakan keadaan Inaq Umi dengan segala penderitaan yang menderanya lalu timbul rasa iba, lalu mengeluarkan satu sen dari kantungnya, lalu mengelus kepala anak yatim, yang sering diucapkan para ustaz. Tak ada lagi rasa kasihan, tak ada lagi yang mendengar perintah Tuhan, siapapun dia, dengan tingkat keulamaan setinggi apapun. Mereka tahu Inaq Umi meninggal dunia karena miskin, karena kurang gizi, karena tak mampu membayar obat, karena tak mampu membeli makanan sehat, apalagi membayar dokter. Semua tahu, tapi mereka anggap tak apa, karena Inaq Umi orang miskin lagi pula bukan kerabatnya, tidak ada pengaruh apapun, Inaq Umi orang kecil, tak akan menjadi berita, hadir atau tidak hadir, tidak akan bertemu kolega, para pejabat, teman satu partai, satu organisasi, jadi biarlah Inaq Umi mati, nanti pasti ada yang mengurusnya.

Inaq Umi telah pergi untuk selamanya. Sudah takdirnya. Ia bukanlah siapa siapa. Suami kejam yang telah meninggalkannya tanpa belas kasihan, juga kepada dua anak yang lahir dari darah dagingnya sendiri, sampai hari ini tidak  pernah ditengoknya apalagi diberikan sesuatu. Semua orang merasa tak perlu mencari dan memberitahu tentang kematian Inaq Umi padanya, untuk apa? Semua juga tahu lelaki itu orang miskin. Tak ada yang tahu dimana ia berada sekarang Tetapi semua orang tahu Inaq Umi orang miskin, hanya kepadanya sajakah hati nurani itu ada? Tuhan hanya memberikan hati kebaikan pada Inaq Umi, beban berat yang dipikulnya, sementara suaminya lari dari tanggung jawabnya, Karena kemiskinan ia rela meninggalkan isteri anak anaknya. Kemiskinan macam ini? Ia miskin benda, tetapi ia lebih miskin jiwa dan iman. Bagi orang kampung Tampes, mungkin hal yang dialami Inaq Umi, diceraikan oleh suami, ditelantarkan dan tak ada yang peduli, adalah hal biasa saja. Anehnya, hal itu juga menjadi bagian pikiran mereka yang disebut pemuka agama, pemuka masyarakat, Itu kenyataan, kata temanku dengan suara lantang setengah marah.

Inaq Umi telah pergi dengan cepat. Ini cara Tuhan menolongnya, agar tak terlalu lama dalam penderitaan, karena ia adalah orang mulia dan ikhlas. Sudah takdirnya. Dalam pandangan masyarakat ia bukanlah siapa siapa. Tuhan memperhitungkan, manusia boleh meremehkannya. Gunung Rinjani melambaikan tangannya melalui semilir angin gunung yang dingin. Gunung ini sejuta tahun yang lalu diperintahkan untuk memoles api menjadi batu apung, agar manusia kelak akan mendapat manfaat kemakmuran dan kedermawanan, dari debu beterbangan yang juga asal kejadian manusia. Gunung Rinjani memanggil roh Inaq Umi ”Datanglah padaku. Aku telah gagal menjalankan perintah Tuhanku. Aku ingin meminta maaf padamu”. Tiba tiba tercium bau harum teramat harum yang tak pernah tercium disemua toko parfum manapun. Bau harum  itu menyelimuti semua dinding Gunung Baru dan bertebaran di laut suci Segara Muncar dan Segara Anak. Ribuah rokh orang miskin bergelayutan di dedaunan hijau sekitar danau yang sunyi dan menyeramkan itu, Mereka diperintahkan menunggu rokh Inaq Umi, lalu menunggu perintah untuk berlayar mengarungi air Segara Anak menuju alam barzah, tempat beristirahat sementara, sampai Tuhan mengetuk palu sebagai tiket masuk surga.

Roh Inaq Umi bertelekan, mengerling dengan ribuan rokh orang miskin lainnya. Ia tersenyum  seperti sahabat lama yang baru berjumpa, karena semua mereka ramah dan saling menyayangi. Inaq Umi menceritrakan kepada roh lain tentang anaknya yang  ditinggalkannya, Roh lain menasihati, agar  nasib anaknya diserahkan pada kuasa  Allah. Roh itu juga menceritakan kepiluan yang mendalam atas keadaan anak yatim piatu yang ditinggalkannya dalam kemiskinan. Lalu semua rombongan roh mereka berlayar menuju tempat persinggahan sementara dengan tenang dan diam, sedangkan  sejumlah setan iblis  yang bersembunyi di semak di pinggiran danau, gusar karena telah gagal membelokkan iman orang miskin yang tak sudi menukar keyakinannya karena kemiskinannya.

Sejak meninggalnya Inaq Umi, tak ada lagi kapal yang singgah di pelabuhan Tampes. Biasanya ada lima kapal yang hilir mudik mengangkut batu apung untuk dieksport, melalui pelabuhan ilegal ini, Katanya permintaan pasar menurun, harga anjlok dan para toke yang menjadi OKB mulai melilitkan kain di kepalanya karena pusing, tak ada lagi uang yang akan dipakai membayar wanita penghibur dikamar remang, sempit dan sepi yang bertebaran di sepanjang jalan  pantai Senggigi.

Senggigi, Februari 2019

Menampilkan lebih banyak

Artikel terkait

Tinggalkan Balasan

Close
Close