Opini dan Artikel
Trending

PANCA SILA DIAMBANG KEBANGKRUTAN?

Pada tanggal 15 Ramadhan  1396H, Tuan Guru Sibawaih, putra Tuan Guru Mutawalli almarhum, di Jerowaru Lombok Timur, tiba tiba mengeluarkan beberapa kalimat di hadapan saya, ketika pada malam itu saya mengunjungi rumahnya yang sederhana di sebuah dusun terpencil  di tepi hutan Sekaroh. ”Ini soal negara” beliau memulai kalimatnya .Negara ini akan tetap kacau, selama tidak ada keadilan di dalamnya. Bahkan saya meyakini negara ini akan aman, bila presidennya orang Sasak. Saya juga sudah menasihati para ulama (tuan guru), agar jangan ikut  jadi pejabat negara, karena jika ulama jadi pejabat, siapa yang akan mengawasi pemerintah, jika mereka menyimpang”?

 I

BPUPKI, PPKI dan PANCASILA

Pada awal tahun 1945, pemerintahan bala tentara Jepang yang menjajah Indonesia, sejak 1942, mulai merasakan tanda tanda kekalahannya dalam Perang Asia Timur Raya melawan tentara sekutu di bawah pimpinan Amerika Serikat. Jepang mulai khawatir jika seandainya kalah dalam  perang apakah nasib negara negara Asia yang dijajahnya akan kembali kepada mantan penjajahnya yang telah ditaklukkan Jepang dalam perang tahun 1942 tersebut?. Mungkin Jepang berfikir, negara negara jajahan tersebut seperti Indonesia, Kamboja, Vietnam, Cina, Burma, Philipina, Kamboja, Laos,Korea,Papua lebih baik merdeka dari pada dijajah kembali oleh orang orang bangsa Barat seperti Belanda, Inggris, Spanyol, Amerika atau Prancis. Lebih baik negara negara jajahan ini menjadi negara merdeka. Khususnya Indonesia, Jepang membentuk sebuah Panitya Persiapan Kemerdekaan atau Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). Dalam bahasa Jepangnya Dokuritu Zyunbi Tyosa-kai.Siapa yang membentuk Badan tersebut,? jelaslah yang membuatnya adalah pemerintah jajahan Jepang di Jakarta. Badan tersebut dibentuk secara resmi pada tanggal  29 April 1945 bertepatan dengan hari ulang tahun kaisar Hirohito.

Jepang sangat berkepentingan dengan Indonesia yang merdeka, untuk mengurangi rasa malunya atas kekalahannya dalam perangnya melawan sekutu, hal tersebut wajar saja, mengingat semboyan Jepang ketika baru datang di Indonesia  menyebut dirinya sebagai “dae toa” atau saudara tua yang sudah lama saling berhubungan satu sama lain. Dalam perjalanannya selalu menjanjikan masa depan yang lebih baik, untuk Asia Timur Raya, hal ini tidak perlu diperdebatkan, demikian pula tidak perlu diperdebatkan siapa yang menggagas terbentuknya BPUPKI, karena sudah jelas .BPUPKI beranggautakan 67 orang,60 orang Indonesia dan 7 orang Jepang. Dari 60 orang Indonesia, terdapat tiga orang mewakili etnis Tionghoa (Tan Eng Hwa, Oey Tiang Tjoei, Oe Tjong Houw) dan satu orang mewakili etnis Arab, yakni Abdurachman Baswedan (kebetulan kakek Anis Baswedan, Gubernur DKI). Bagian ini saya tonjolkan agar kita memahami sejarah terbentuknya negara Indonesia atas dasar kerja sama semua etnis dan suku bangsa yang ada di Indonesia. Hal ini menjadi begitu penting ketika kita semua sedang membahas tentang dasar negara Pancasila, dan ketika generasi muda kita seringkali dapat diprovokasi untuk sesuatu yang menjurus kepada perpecahan bangsa sebagai akibat dangkalnya pemahaman terhadap sejarah bangsanya sendiri. Sekali lagi pelajaran sejarah sangat penting.

Tugas utama dari BPUPKI adalah mempelajari dan membahas berbagai hal berkaitan dengan rencana negara baru Indonesia, termasuk tujuan dan dasar negara baru yang akan dibentuk tersebut. Wajarlah jika dalam badan tersebut terdapat diskusi dan perbedaan di antara anggauta badan tersebut, seperti lahirnya piagam Jakarta, kemudian dihilangkannya kata kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk pemeluknya. Untuk menghindari perpecahan, wakil wakil Islam dalam badan tersebut nanti pada akhirnya menyetujui dihilangkannya beberapa kata dalam piagam Jakarta tersebut. Hal ini juga penting saya  kemukakan, karena dewasa ini ummat Islam seakan akan menjadi masalah dalam pergaulan politik di tanah air, suatu hal yang amat  kontradiktif dengan peranan sebenarnya dari  ummat Islam dalam pendirian negara Indonesia ini. Sekali lagi pelajaran sejarah sangat penting. BPUPKI sendiri diketuai oleh  Radjiman Widiodiningrat dan wakilnya Ichibangase  Yosio (orang Jepang).Badan ini diresmikan oleh pimpinan bala tentara Jepang di Jakarta, Kumaciki Harada. Badan itu juga dilengkapi dengan sekretariat yang akan  menyiapkan berbagai agenda dan bahan bahan yang akan dibahas dalam sidang sidangnya. Sebagai Kepala Sekretariat diangkat  Abdul Gafar Pringgodigdo (sering disingkat A.A.Pringgodigdo) dan wakilnya  Mapudo Toyohiko.

BPUPKI dengan 67 orang anggautanya selain dari utusan pemerintah Jepang, juga mencerminkan semua golongan dan etnis yang ada di Indonesia. Sebagai contoh wakil wakil dari Jawa, Sumatera, Sunda Kecil, Kalimantan dan etnis Cina dan Arab. Hal ini, yang nama namanya telah diuraikan di awal tulisan ini.. Sekali lagi tujuan saya menampilkan hal ini, agar kita semua teruama generasi muda memahami tentang perjuangan bersama di dalam membentuk negara kesatuan yang sangat kita cintai bersama. Badan inilah yang telah menghimpun berbagai pemikiran berkaitan dengan rencana kita membentuk suatu negara yang akan memayungi semua suku bangsa dan  ummat manusia yang hidup dan berkehidupan di dalamnya (Negara Kesatuan Indonesia).

Dalam sidang yang paling bersejarah, ada tiga orang pemimpin bangsa yang mengemukakan gagasannya tentang negara Indonesia yang akan dibentuk atas ijin dan prakarsa bersama dengan pemerintahan pendudukan Jepang, yakni Mr. Muhammad Yamin, Mr. Prof. Supomo dan Ir. Soekarno. Dalam sidang tanggal 29 Mei 1945,Prof.Muhammad Yamin mengajukan lima dasar negara yakni 1. Pri Kebangsaan, 2. Pri Kemanusiaan, 3. Pri Ketuhanan, 4. Pri Kerakyatan dan 5. Kesejahteraan Rakyat. Sementara  pada sidang BPUPKI tanggal 31 Mei 1945, Prof. Mr. Soepomo mengajukan juga lima dasar negara yakni 1. Persatuan, 2. Kekeluargaan, 3. Keseimbangan lahir bathin, 4. Musyawarah, 5.Keadilan Sosial. Barulah pada tanggal 1 Juni 1945 giliran Soekarno menyampaikan pendapatnya  sebagai berikut, beliau juga mengusulkan lima dasar negara yakni, 1. Kebangsaan Indonesia, 2. Internasionalisme dan pri kemanusiaan. 3. Mufakat atau demokrasi, 4. Kesejahteraan Sosial, 5. Ketuhanan. Dari ketiga pemikiran tentang dasar negara yang diajukan oleh ketiga tokoh bangsa itu, tampaknya hampir sama atau sesungguhnya idem dito, kecuali penggunaan istilah saja dan tata urutan saja. Misalnya Moh, Yamin menggunakan istilah pri Ketuhanan, Prof. Soepomo menggunakan istilah Keseimbangan lahir dan bathin dan Soekarno menggunakan Ketuhanan juga, sama dengan yang digunakan M Yamin. Demikian pula istilah Kesejahteraan Sosial yang diusulkan oleh Mohammad Yamin sama dengan yang diusulkan Soekarno, sedang Mr. Prof. Supomo menggunakan Keadilan Sosial. Prof. Soepomo menggunakan kata musyawarah, sedang Soekarno menggunakan kata mufakat atau demokrasi, sedangkan Mohammad Yamin menggunakan kata Kerakyatan. Demikian pula istilah kebangsaan yang  diajukan oleh ketiga tokoh tersebut walau terdapat perbedaan beberapa huruf saja, seperti kata Kebangsaan Indonesia (Soekarno), Pri Kebangsaan (M. Yamin) dan Kekeluargaan (Mr. Soepomo).

Susunan Pancasila dan untaian kata katanya yang ada dalam sila silanya, sesungguhnya merupakan gabungan dari  pemikiran ketiga  tokoh bangsa tersebut. Sebagai contoh adalah pada sila kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan  perwakilan. Tidak dapat diingkari bahwa susunan dan kata kata dalam Pancasila tersebut adalah hasil penggodokan oleh Panitya Persiapan Kemerdekaan yang anggautanya terdiri dari 21 tokoh bangsa, dan sudah barang tentu setiap orang akan  memberikan pandangannya untuk memperkaya hasanah dasar negara baru Indonesia. Hal ini sangat penting agar sejarah tidak dibelokkan pada setiap periode kekuasaan dewasa ini.

Soekarno sendiri dalam naskah dekrit presiden 1959,menjelaskan sekali lagi, bahwa Undang Undang Dasar dan Pembukaannya tidak dapat dipisahkan dari Piagam Jakarta. Piagam Jakarta itu sendiri mencantumkan kata kata kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk pemeluknya, atas dasar kesepakatan bersama dari semua golongan dan penganut agama, maka kata kata kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya telah dihilangkan dan hanya menyisakan kata Ketuhanan Yang Maha Esa saja. Hal ini saya sebut sebagai kompromi kebangsaan yang paling pundamental bukan kompromi wacana yang dapat diputar balikkan oleh gelombang sejarah dan kekuasaan. Hal ini juga saya ungkapkan, mengapa pada akhir akhir ini Pancasila menjadi bahan gunjingan seakan akan ada kelompok yang paling berhak menafsirkan Panca Sila tersebut?, Demikian pula sekelompok masyarakat yang dengan pemahaman yang terbatas ingin menghidupkan kembali pembahasan tentang Piagam jakarta yang telah diputuskan oleh semua kelompok yang membuat kompromi besar demi lahirnya sebuah bangsa yang bernama  Indonesia sekarang ini. Saya juga masih menduga duga mengapa akhir akhir ini banyak pertengkaran berhubung  dengan Pancasila, setelah tumbangnya rezim Soeharto yang secara sistimatis ingin memelihara Pancasila itu dengan membentuk BP4, lalu setelah dua puluh tahun  lahirlah BPIP?. Mengapa Ketua BPIP dijabat oleh Ketua PDI? Adakah kemungkinan lebih baik, jika lembaga itu dikembalikan kepada pihak netral seperti para akademisi yang tidak memiliki ambisi politik ?

II

Sesenggak Sasak

 “Pelisaq leq bon batu, mun dek ku gitaq ndekku sadu”

Artinya, bahwa apa yang diucapkan tidak harus dipercaya, sampai kata kata itu sudah terbukti pada kenyataannya.

Sejak Orde Baru, dan mungkin juga sejak Orde Lama, proses penipisan pengamalan Pancasila terus berlangsung. Praktek pembangunan di Indonesia, sejatinya adalah proses  pengelupasan nila nilai pancasila yang bisa jadi tanpa disadari oleh kita, terutama oleh pemerintah. Pembangunan kita yang berkiblat pada teori ekonomi kapitalis murni, telah menjauhkan kita dari nilai nilai yang dikandung oleh Pancasila. Semangat gotong royong dan tolong menolong secara sistimatis digerus oleh kebijaksanaan pembangunan yang imamnya proyek orented. Misalnya di Lombok gotong royong di sektor pertanian yang dahulu diorganisir secara gotong royong, melalui subak, seketika hilang, karena pemerintah membuat organisasi sendiri yang disebut kelompok pemakai air yang induknya mengacu pada organisasi pemerintah. Hal ini sebagai akibat sistim proyek itu sendiri yang mengharuskan kelompok swadaya masyarakat harus di kontrol pemerintah. Akibatnya tidak ada lagi rasa tanggung jawab bersama dalam masyarakat pedesaan, tidak ada lagi gotong royong. Hal ini hanyalah contoh kecil saja.

Mengapa Soekarno memeras Panca Sila menjadi Eka Sila, yakni gotong royong? Oleh karena dalam gotong royong tersebut ada nilai nilai yang mencakup semua unsur dalam Pancasila, nilai  Ketuhanan atau agama yang menganjurkan tolong menolong, melalui gotong royong di semua bidang kehidupan. Bukankah hal ini yang menjadi wujud dari Ketuhanan Yang Maha Esa? Dalam gotong royong ada musyawarah dan mufakat untuk menentukan tujuan, agenda dan  pengorganisasian masyarakat. Tujuan dari gotong royong juga untuk mencapai kemaslahatan bersama yang seimbang, adil dan beradab. Pendek kata gotong royong adalah kepribadian Indonesia dan pemerintah melalui caranya mengurus pembangunan  di Indonesia, dewasa ini sedang  menggerus nilai nilai Pancasila dalam kehidupan, bukan dalam wacana..Pemerintah mengelola negara yang mendapatkan imbalan sangat besar jika dibandingkan dengan kehidupan rakyat, adakah sama dengan keadilan sosial?

Demikian pula para pimpinan partai yang seharusnya memberi contoh kehidupan yang selaras dengan Pancasila, sebaliknya mempertontonkan perilaku anti Pancasila, seperti kurang menghormati perbedaan baik di dalam intern partainya atau diluar partai. Partai partai yang menggunakan nama demokrasi, sering kali tidak mempraktekkan demokrasi di dalam  partainya sendiri. Setiap perbedaan  pendapat, pasti akan  berakhir dengan pemecatan. Bukankah hal ini bertentangan dengan sila musyawarah mufakat dalam Pancasila?.

Ekonomi Indonesia yang seratus persen mengacu pada ekonomi kapitalis, ekonomi pertumbuhan, ekonomi karpet merah bagi modal asing, ekonomi IMF, Ekonomi pasar modal, ekonomi tricle down effect, tidak mampu memelihara Pancasila yang menjunjung tinggi Keadilan Sosial Karena tidak ada buktinya. Memang ekonomi jenis di atas telah melahirkan petumbuhan. Tetapi siapa yang paling menikmati pertumbuhan itu?. Kurang lima persen konglomerat Indonesia  mengangkangi ratusan juta penduduk miskin di Indonesia. Saya tidak percaya bahwa penduduk miskin di Indonesia, hanya 11 atau 12 juta jiwa saja. Buktinya berapa ratus juta yang diberi subsidi BPJS Kesehatan?, BPJS ketenagakerjaan? Mengapa mereka diberi subsidi? Karena mereka kaya atau karena mereka miskin?. Memutar balikkan fakta, apakah itu pengamalan Pancasila?

Demikian pula dalam pemahaman kita tentang sila sila yang lain dalam Pancasila, misalnya sila Ketuhanan tidak lagi dalam praktik menjalankan nilai nilai agama masing masing. sesuai dengan tujuan yang hakiki. Bukankah dalam setiap agama mengajarkan kebaikan?. Mengajarkan toleransi, tolong menolong, musyawarah mufakat dalam hampir semua praktek keagamaan?, Dengan kata lain jika setiap orang Indonesia menjalankan  agamanya dengan baik, pastilah mereka sedang mengamalkan nilai nilai yang ada pada Pancasila. Akan tetapi jika agama dijadikan perangkat untuk mendapatkan sesuatu pengaruh, uang, politik, kekuasaan, bukankah hal itu tidak sesuai dengan tujuan agama itu sendiri?. Ketika itulah banyak orang yang menggunakan  agama bukan untuk menghamba pada Tuhan, tetapi sedang menghamba pada duniawi melalui baju palsu yang disebut pancasila, padahal mereka sedang merusak pancasila itu sendiri.

III

DIAMBANG KEBANGKRUTAN

 “Tongko leq labuan, eraq to taoq keruan”

Ideologi komunis yang bersumber dari konsep pemikiran Karl Marx dan Fredrck Engels adalah teori kelas dalam masyarakat proletar dan borjuis dan negara. Acuan pemikiran ini telah melahirkan ideologi yang dikenal dengan komunisme. Konsep ini sejak 1923 telah membangun blok ekonomi dan politik yang disebut blok Timur di bawah pimpinan Rusia dalam kelompok negara yang mengaku komunisme sebagai ideologi pembangunannya. Blok lainnya yang kita kenal dengan istilah blok Barat yang bersemboyan menjunjung tinggi ideologi kebebasan dan mengkritik ideologi komunis. Dunia dibagi menjadi blok Timur yang komunis, dan blok Barat yang kapitalis dengan memperdagangkan kebebasan. Indonesia pada dasarnya tidak masuk dalam salah satu blok tersebut, lalu pada 1955 memperkenalkan satu blok baru lagi yang disebut non blok. Sayang sekali pada akhirnya Indonesia cendrung ke Blok Timur, terutama berkaitan dengan perjuangan pembebasan Irian Jaya (sekarang Papua).

Apakah ideologi kebebasan yang dianut oleh negara negara Barat  telah berhasil menjaga stabilitas dunia? Tampaknya tidak juga, malahan negara negara Barat tersebut ikut menyumbang instabiltas dunia, karena nafsu ingin menguasai sumber sumber alam negara lain. Negara Barat tidak berhasil menjual demokrasi sebagai slogan yang menempel pada kata kebebasan, karena nafsu ekonomi lebih dominan. Lihatlah praktek negara Barat yang memelihara hubungan dengan negara negara Timur Tengah yang memiliki catatan buruk tentang hak asasi manusia, hanya untuk dapat mengekploitasi minyak dan gas. Contoh pembunuhan Saddam Husain, pembunuhan Muammar Kaddafi. lalu kontraktor minyak Barat mulai memasuki negara yang telah didudukinya.

Baik ideologi komunis maupun ideologi kebebasan, pada dasarnya telah runtuh. Ideologi komunis sebagai cara mengelola negara dan ekonomi telah runtuh pada permulaan 1991 yang didahului oleh adanya pembaharuan pikiran oleh presiden Uni Sovyet Michail Gorbacev melalui apa yang disebut glasnot dan perestoika. Walaupun beberapa negara masih mempertahankan partai komunis seperti China dan Vietnam, akan tetapi isi konsep ekonominya sudah tidak sepenuhnya lagi dilaksanakan. Partai komunis digunakan untuk mengendalikan politik di dalam negeri. Di beberapa negara eks Uni Sovyet termasuk Russia masih ada partai komunis, namun jumlah pengikutnya terus merosot.

Demikian pula ideologi agama mulai memudar dimana mana, termasuk dalam masyarakat Islam, Yahudi ataupun Kristen. Di Israel agama Yahudi aliran keras dipraktekkan untuk penindasan terhadap orang Palestina.Di Mianmar,beberapa pendeta Budha mendorong genoside terhadap orang Rohingya yang beragama Islam. Banyak tokoh agama memakai agama dan simbolnya digunakan untuk kepentingan politik dan pribadi. Partai yang dahulu berlatar agama kini mulai ditinggalkan misalnya di Indonesia, PPP dan PBB sudah hampir sakratul maut Hal itu berarti masyarakat tidak lagi tertarik dengan ideologi seperti itu, karena mereka dapat menyaksikan pri laku para pemimpinnya. Banyak gereja di dunia terlibat korupsi dan skandal seks yang pada dasarnya sangat bertentangan dengan agama itu sendiri, lalu perlahan orang menjadi tidak percaya pada agama.

Bagaimana dengan Pancasila?. Pancasila tidak pernah berhenti untuk kita jadikan ideologi negara. Pancasila terus terjaga dalam wacana. Bahkan Pancasila bisa menimbulkan perang saudara tetapi carilah dia dalam kehidupan bangsa kita dewasa ini. Di jaman Orde Baru ada BP4 yang dengan sangat sistimatis memelihara, mengembangkan ,mengideologikan Pancasila, tetapi aspek keadilan, demokrasi, kemanusiaan, keagamaan yang mulai memudar telah meruntuhkan rezim yang begitu kuat dan perkasa dalam sebuah kerusuhan yang singkat pada tahun 1998. Demikian pula runtuhnya rezim presiden Soekarno pada tahun 1965,tak lepas dari pada pertikaian idologis, dimana Pancasila tetap ada ,dalam sistim kenegaraan kita. tetapi ideologi komunisme dan agama bertikai di dalamnya. Tantangan Pancasila dewasa ini lebih besar, karena kita sangat tergantung pada kehendak negara lain, saya mengambil contoh ketika presiden Soekarno dengan berani mengatakan “go to hell with your aid”, menolak campur tangan negara lain sebagai sarat mendapatkan bantuan. Membebaskan visa bagi orang asing yang datang ke Indonesia, membuat undang Undang Omnibus Law untuk menjadikan Indonesia sebagai sorga modal asing, saya meragukan kemampuan Pancasila untuk membendung tergerusnya nilai nilai yang terkandung di dalamnya. Nilai modal asing yang digdaya, perilaku para pemimpinnya yang sangat tidak sesuai dengan Pancasila, adalah unsur yang menggerus hidupnya Pancasila. Banyak ideologi di dunia ini mengalami keruntuhan, tetapi Pancasila sedang berada diambang kebangkrutan. Pancasila tidak ada dalam kehidupan negara kita, tetapi kita tetap mengucapkannya, bahkan kita jadikan sangsi dari berbagai pelanggaran hukum yakni dengan cara menghapalkannya di muka umum. Pancasila sudah jadi mainan kata kata. Berbeda dengan ideologi yang lain, ideologi Pancasila walau tengah mengalami kelelahan, diperebutkan sebagai kata kata, bukan dilombakan untuk diamalkan, terutama oleh para pemimpin negeri ini, tapi jangan khawatir, karena anggauta BPIP tetap mendapat gaji tinggi, bahkan mungkin akan mendapat jaminan pensiun, tidak peduli jika seandainya Pancasila, disuatu saat akan pensiun dan hanya  menjadi posil sejarah, ketika kita telah kehilangan kepribadian, itu artinya Pancasila diambang kebangkrutan.

Suriawangi, 8 Oktober 20

Menampilkan lebih banyak

Artikel terkait

Tinggalkan Balasan

error: Content is protected !!
Close
Close