Opini dan Artikel
Trending

SHIVA, LADDU SINGH DAN POLISI KITA

Sebuah film anak-anak di India, telah ditayangkan berulang kali dilayar televisi ANTV. Film anak anak ini termasuk yang paling banyak penggemarnya di India dan di beberapa Negara-negara lain di dunia, tidak terkecuali di Indonesia. Di Indonesia, film seperti Shiva maupun film Upin dan Ipin, penggemarnya bukan hanya di kalangan anak anak saja namun kalangan orang dewasa juga, karena produser film kita belum mampu membuat film sekelas Shiva atau si Upin dan Ipin. selain kualitas gambar maupun tema ceritanya yang sangat cair dan  menggelitik.

Laddo Shingh, seorang inspektur polisi dinegara bagian piktif Vedas di India, selalu membanggakan dirinya dengan ungkapan sebagai berikut ”Namaku Laddo Singh, inspektur polisi, lima puluh kilometer jauhnya, setiap orang yang  ingin  akan melakukan kejahatan, pasti tidak  akan lolos dan akan mendapat balasan dari saya”. Setiap ada kejahatan, tak ada yang akan lolos dari inspektur Laddo Singh. Sementara Shiva seorang anak kecil yang masih duduk di Sekolah Dasar bersama temannya Adi, Reva dan seorang penakut lainnya, tetap bermain dan belajar sebagai anak sekolah, akan tetapi jika ada kejahatan yang menimpa negaranya, mereka selalu tampil digaris paling depan, khususnya Shiva. ”jangan panggil aku anak kecil, paman, namaku Siva, namaku adalah Shiva”.

Peristiwa peristiwa besar yang dapat diselesaikan oleh Shiva dan ketiga temannya, seperti perampokan bank, perusakan lingkungan hidup, penculikan anak, penipuan. pencurian tenaga listrik milik negara Vedas, telah menyita perhatian masyarakat dan media. Televisi Vedas, ketika mewawancarai shiva, Shiva selalu menyerahkan keterangan kepada Inspektur Laddo Singh, lalu Shiva dan kawannya mengayuh sepedanya pulang untuk beristirahat atau bermain  seperti anak-anak lainnya. Ketika itulah inspektur Laddo Shingh, membual, seakan akan dialah yang mengatasi semua masalah besar itu, tanpa bantuan Shiva dan teman temannya. Walaupun pembantunya, seorang agen polisi Celaram, tahu bahwa sebenarnya Shivalah yeng menyelesaikan semua masalah tersebut, namun Celaram takut untuk menjatuhkan atasannya di muka umum.

Film India, bukan hanya film anak-anak yang menyindir perilaku kepolisian Negara tersebut. Banyak sekali film India yang diputar di bioskop sejak lebih dari 40 tahun lalu mengandung sindiran terhadap perilaku polisi di negara tersebut (dahulu penulis suka nonton film di bioskop). Kebrutalan polisi dalam menangani berbagai kasus, tingkah laku polisi yang selalu meminta imbalan dalam bentuk Rupee dalam menangani masalah kriminal dan pelanggaran lalu lintas menyebabkan kepolisian di India menjadi terkenal dengan sebutan ”polisi India”. Istilah polisi India, adalah sebuah eupemisme terhadap kebrutalan polisi di negara  itu. Dan hebatnya lagi, pemerintah India tidak pernah melarang perusahaan film atau media apa pun untuk mempublikasikan hal-hal yang sangat kasar terhadap prilaku polisi di negara tersebut

Di Amerika Serikat beberapa bulan lalu, media Negara tersebut menyiarkan secara besar besaran tentang kebrutalan polisi Negara bagian Houston, Miniapolis terhadap seorang terduga kriminal yang menyebabkan Goerge Floyd. tewas ditindih oleh Derrect Chouvin salah seorang polisi di Negara bagian tersebut, hal seperti itu menjadi sangat biasa, karena media sebagai kekuatan control dari sistim sebuah negara telah mengambil perannya yang  layak dalam Negara demokrasi tersebut. Sedangkan di negara Negara lain tertentu termasuk di Indonesia, medianya sangat berhati hati mempublikasikan hal-hal yang menyangkut aparat kepolisian kita. Hal ini tentu saja berdasarkan pengalaman yang telah menimpa beberapa media di Negara ini tentunya, bahkan industri film kita termasuk film animasi anak-anak pun belum berani membuat film yang secara pulgar mengandaikan polisi negerinya dengan perilaku yang dicontohkan oleh bintang film seperti Shiva dan inspektur Laddo  Singh. Ketakutan tersebut beralasan, karena beberapa kasus telah menimpa perseorangan atau media yang dijerat dengan  berbagai pasal, seperti pencemaran nama baik, Undang Undang ITE dan lain sebagainya.

Masa Kanak-Kanak Dan Remaja

Masa kanak-kanak dan remaja adalah masa pertumbuhan. Dalam masa pertumbuhan, anak-anak membutuhkan kasih sayang. Anak anak jangan hendaknya dimarahi berlebihan, apalagi dengan kata kasar dan ancaman. Jika anda marah pada anak remaja jangan hendaknya diucapkan kata-kata “pergi kamu dari sini”. Anak tersebut sangat sedih dan mungkin saja dia akan pergi entah ke mana. Mereka belum mampu untuk mempertimbangkan segala sesuatu, tentang baik dan buruknya. Anak kecil memerlukan pujian dan ungkapan kata atau ucapan yang menyenangkan bagi mereka. Jika dia berprestasi disekolahnya, hendaklah di ucap kata pujian dan janji memberikan hadiah, tetapi jika prestasinya rendah, hendaklah dihibur dengan kata harapan yang mendorong ke arah peningkatan yang akan datang. Anak kecil jangan dikritik, karena ia belum mampu mempertimbangkan segi positif dari kritik tersebut. Anak tersebut akan menjadi murung, sedih dan bisa jadi putus asa, menghilang dan ada juga yang bunuh diri. Kasihan.

Shiva, walau usianya sekitar 11 tahun dan tergolong anak kecil, dia tak mau disebut sebagai anak kecil, ”Jangan bilang aku anak kecil” katanya, lalu dia memperkenalkan namanya ”Saya adalah Shiva, namaku adalah Shiva”. Penjahat yang ada di hadapannya berkata “Jika bukan anak kecil, lalu kamu saya panggil apa”?. Sekali lagi Shiva, mengatakan “Jangan panggil aku  anak kecil paman”, namaku adalah Siva”, Di Indonesia, jika ada yang mengkritik polisi atau pejabat pemerintah lainnya, polisi yang mendapat laporan, segera membuka lembaran-lembaran Undang Undang untuk mencari cari pasal mana yang dapat menjerat si pengkritik tersebut. Entah kritiknya dimuat pada pertemuan biasa, di media massa, apalagi berani membuat film yang isinya berupa kritik, seperti polisi India maka bersiap-siaplah segera akan dijemput oleh petugas berpakaian seragam. Tidak ada kritik, tidak ada yang berani mengkritik. Sugi Nur, orang dari keluarga NU, tetapi karena beliau mengkritik sesama NU dan para pemimpin NU, lalu orang orang yang enggan dikritik, melapor kepada polisi, Sugi Nur dengan cepat dicokok dari rumahnya. Apalagi kalau berani mengkritik orang lain seperti mengkritik pejabat atau penegak hukum lainnya, karena pasal pasalnya sudah tersusun rapi tinggal dibentangkan saja di hadapan para pesakitan atau calon pesakitan. Jika seandainya, Gus Dur masih hidup, maka orang seperti Gus Sugi Nur bisa jadi  akan dipromosikan menjadi ketua PB NU saat itu. Karena beliau sepanjang hidupnya terus mengkritik ketidakadilan, termasuk mengkritik polisi kita. dengan guyonannya yang menyebutkan hanya tiga polisi di Indonesia yang baik, yakni patung polisi, polisi tidur dan Hugeng Iman Santoso.

Orang yang tidak sanggup menerima kritik, adalah pengandaian anak kecil yang senang dipuji. Sedangkan anak yang dimarahi dan dikritik, wajar menjadi sedih, marah atau menghilang  karena belum mampu mempertimbangkan tentang manfaat dari kritik. Akan tetapi orang dewasa yang tidak suka dikritik, bukankah sama dengan orang yang suka di puja dan dipuji?. Artinya orang semacam itu masuk dalam kategori kelompok anak-anak manja. Jika seseorang mengkritiknya, dinilai orang tersebut tidak senang pada dirinya, walaupun sebaliknya bisa jadi orang yang mengkritik adalah orang  yang sesungguhnya mencintainya. Sementara orang yang suka memuji, bisa  jadi karena yang dipuji dianggap anak-anak, atau perilaku menjilat karena punya kepentingan pribadi.

Media Di Indonesia, Media Tukang Puji ?

Media di Indonesia, khususnya media mainstream seperti Koran dan televisi di Indonesia, sangat berhati-hati dalam membawakan berita-berita yang tergolong human intrest. Hal ini dapat dipahami berdasarkan–pengalaman dari berbagai media yang hendak menjaga marwah pers yang independen, seperti majalah TEMPO dan yang lainnya. Media seperti itu hampir kehilangan waktu  untuk melayani gugatan di pengadilan, atas nama pencemaran nama. walaupun Undang Undang Pokok Pers telah memberi panduan dengan memberikan hak jawab, tetapi nafsu menggunakan pasal lain terus membanjiri ranah hukum di Indonesia.

Media pers dan televisi di Indonesia, dimiliki oleh politisi yang mendukung pemerintahan atau dengan kata lain media Indonesia lebih banyak menjadi kendaraan politik para pemiliknya, seperti televisi M dan M dan lain-lainnya. Media seperti ini sering kali menjadi humas pemerintah serta menjauhi prinsip pers bebas dalam sistim negara demokrasi. Dahulu ada istilah pers adalah parlemen kedua dan wartawan adalah ratu dunia, mungkin hal itu masih berlaku di Negara-negara demokrasi maju, tetapi tidak di Indonesia. Mungkin karena ketidak percayaan masyarakat pada media tersebut, akhirnya memilih medsos yang belum tentu terjamin akurasinya. Dalam hal ini masyarakat menjadi semakin tidak percaya lagi dengan media Indonesia.

Media pers dan televisi Indonesia, adalah media ”Jakarta centris”. Peristiwa sekecil apapun yang terjadi di Jakarta akan memenuhi halaman koran dan layar kaca televisi kita, walaupun nilainya mungkin sangat tidak bermutu. Ucapan para pejabat memenuhi halaman media dan layar televisi kita, yang menggambarkan  bahwa produk media kita adalah produk kehumasan yang bernilai rendah, karena kebenaran tentang ucapan para pejabat tersebut tidak ingin dicari oleh media tersebut, takut berbenturan dengan kebijaksanaan pemerintah dan para pemilik media tersebut yang merangkap  sebagai  kaki tangan pemerintah, dengan mana nilai media kita sedang diambang kehilangan kepercayaan dari masyarakat. Sebagai buktinya, lebih banyak pemirsa televisi atau pembaca Koran dewasa ini akhirnya lebih suka mencari iklan, menonton sinetron atau menyaksikan lawak melalui stand up comedy atau kehadiran pelawak-pelawak lain di Indonesia, liga dangdut, film anak-anak, lalu mencari sumber lain seperti saluran internet atau berita dari negara lain.

Media kita adalah media meniru. Jika salah satu televisi menemukan anak ular cobra di sebuah rumah, maka televisi yang lain juga akan mencari anak ular cobra di tempat lain. Jika salah satu televisi mewawancarai seorang menteri, maka televisi yang lain akan mencari menteri yang lain untuk diwawancarai walaupun dengan topik yang hampir sama. Jika demikian, maka media kita adalah media  fotocopy, men-copy dari berita televise lain, terutama televisi di Barat, seperti CNN, kantor berita Reuters, kantor berita AFC, BBC, ABC, TASS, Aljazira dan lain-lain. Sedangkan media di tempat lain dengan   menugaskan wartawannya di setiap Negara yang penting, sedangkan media kita dapat menghemat biaya dengan menjadikan mahasiswa atau turis yang sedang berada di sebuah Negara lain. Mereka memang tidak mau rugi dengan membayar wartawan di negara lain, walaupun untungnya dari iklan bejibun. mereka tidak perlu kualitas, tidak perlu akurat, tidak perlu human intrest, karena masyarakat tidak pernah protes katanya. Masyarakat tidak  akan protes karena tidak ada gunanya. Akhirnya masyarakat mencari berita di internet yang belum tentu memiliki nilai kebenaran. Internet penuh dengan hoax, penuh dengan kata-kata para buzzer, inpluencer, pranker yang sangat tidak bermutu, yang penuh hawa nafsu uang dan tidak peduli dengan kebencian dan perpecahan bangsanya. Pendek kata, media seperti surat kabar, majalah, televisi serta bentuk lainnya di Indonesia sekarang ini, menggambarkan peta  politik yang sebenarnya di Negara ini, yakni oligarki dalam kekuasaan, oligarki dalam berita, oligopoli dalam bisnis. Memang ada media yang tetap mempertahankan independensi-nya seperti TEMPO, tetapi sampai kapan mereka mampu bertahan ?.

Berita-Berita Tentang Polisi Dan Penegakan Hukum

Hampir semua berita yang sama di Indonesia disiarkan oleh semua media yang sama, seperti Koran televisi dan sebagainya. Koran dan televisi. Tak ada satu pun media kita yang mencoba berwajah lain dengan media yang lain. Semua media kita tak mampu bersaing dalam konten beritanya. Walaupun KOMPAS yang bersemboyan ”independen, terpercaya”, hal itu belum tentu benar. Koran itu juga sudah mulai menjadi Koran humas, yang benar menurut pandangan saya, KOMPAS sangat berhati hati untuk menjaga keselamatannya dari gangguan  atas nama negara, jadi bukan sepenuhnya  independen, tetapi pandai zig-zag dalam situasi yang terlebih dahulu telah dianalisanya.

Polisi Indonesia menikmati popularitas atas nama media Indonesia. sampai-sampai ada beberapa polisi wanita cantik menjadi penyiar resmi di layar kaca televisi Indonesia, karena dimungkinkan oleh kebijaksanaan media kita. Hampir setiap televisi di Indonesia saling tiru membuat acara khusus yang memperagakan keberhasilan dan kehebatan polisi kita. Semua acara dengan judul berbeda yang tujuannya sama, seperti Telusur, Sidik jari, Menyingkap tabir, Menyingkap kasus, Buru sergap, Partoli, Buru buronan dan lain sebagainya. Hal ini bisa terjadi juga karena sifat media kita yang saling tiru seperti kasus anak ular Cobra seperti  tersebut di atas. Sebenarnya berita tentang polisi dan aktivitasnya yang dipublikasikan secara massiv menjadi mozaik kehidupan kejahatan di Indonesia, bisa jadi menjadi negatif dalam pandangan orang luar.

Jika seandainya semua acara di televisi tentang aktivitas kepolisian kita, seperti acara di atas, hanyalah menggambarkan sifat meniru dari media kita, maka popularitas kepolisian kita diperoleh secara suka rela dan hal itu baik sekali, walaupun lembaga penegak hukum lainnya tidak mendapatkan pemberitaan yang  sama seperti itu. Akan tetapi apabila pemberitaan media tersebut merupakan iklan berbayar, maka hal itu mungkin perlu dipertimbangkan. Misalnya untuk mendapatkan pujian dari masyarakat, tidak perlu iklan, dapat juga melalui pelayanan yang cepat dan tidak memihak. Maka secara otomatis polisi akan mendapat penghormatan yang tinggi  dari masyarakat. Polisi kita akan jadi kuat dan terhormat, dapat diperlihatkan pada prestasinya yang independen dalam penegakan hukum. Polisi yang senantiasa dipuja dan dipuji dalam bentuk iklan kelak akan kehilangan jati dirinya, seperti ceritra Shiva dan Ladoo Singh di atas.

Menampilkan lebih banyak

Artikel terkait

Tinggalkan Balasan

error: Content is protected !!
Close
Close