Opini dan Artikel
Trending

KH. ABDURRACHMAN WAHID YANG KU KENAL

Sudah lama saya berniat, bahwa pada suatu hari nanti, saya akan bertemu, bertatap muka dan bercengkrama dengan seorang tokoh dunia yang bernama Abdurrachman Wachid atau yang lebih dikenal dengan gelar Gus Dur. Memang, sejak 1987  saya sering bertemu di berbagai pertemuan, seminar, atau diskusi diskusi politik dan demokrasi di Indonesia, ketika beliau masih duduk sebagai dewan pembina di Yayasan Bina Desa sementara saya duduk sebagai direktur Yayasan Swadaya Membangun sekaligus sebagai koordinator LSM untuk provinsi NTB pada saat itu. Pada saat bersamaan beliau juga duduk sebagai Ketua Pengurus Besar, Nahdlatul Ulama (NU).

Saya mengenal beliau secara langsung atau tidak langsung, lebih dari 15 tahun sebelum jatuhnya presiden Soeharto pada 1998, melalui pergerakan massa rakyat, mahasiswa dan aktivis pro demokrasi seperti Gus Dur Amin Rais dll. Pada proses akhir kejatuhan presiden Soeharto, saya beberapa hari sampai hari H terus berada di Jakarta untuk terus melihat kerusakan hebat berbagai properti dan fasilitas umum akibat kerusuhan tak terkendali Pada bulan Mei 1998 serta memantau perkembangan terakhir sampai pernyataan pengunduran diri presiden Soeharto pada tahun 1998.

Ketika beliau tidak lagi menjabat sebagai presiden, pada  tahun 2007, beliau pernah  mendamprat saya berkaitan dengan kisruh jemaah Ahmadiah di Lombok Timur, dengan diusirnya sejumlah pengikut Ahmadiah dan membakar serta  merusak beberapa properti, seperti rumah, mesjid dan benda berharga lainnya. Setelah  saya jelaskan, bahwa kekisruhan yang menimpa Ahmadiah tersebut berlangsung beberapa tahun sebelum saya menjabat sebagai  bupati di Lombok Timur. Demikian pula ketika beliau menjadi Ketua Dewan Suro PKB, saya  juga pernah di damprat sebagai pengurus yang tidak becus, karena tidak pernah mengirim laporan kegiatan partai.

Selaku ketua DPW PKB, saya jelaskan, bahwa saya senantiasa mengirim segala laporan kegiatan ke kantor DPP. Saya juga sangat heran, mengapa semua surat menyurat yang saya kirim tak pernah sampai di kantor pusat partai itu. Setelah saya jelaskan, bahwa saya tidak akan mempertahankan kedudukan, (Ingat uapan beliau ketika dilengserkan sebagai presiden) hanya saya perlu klarifikasi.

Rupanya ada anasir   di dalam tubuh partai (mungkin juga terjadi pada partai lain) yang selalu menyembunyikan segala surat dan laporan, dengan mana mereka dapat menyimpulkan bahwa saya selaku pengurus tidak becus dan tidak menghiraukan partai itu. Setelah saya menunjukkan semua surat dan laporan yang  pernah dikirim tetapi tidak dilaporkan, beliau termenung sejenak, dan usaha memecat saya tidak jadi dilaksanakan. Walaupun akhirnya saya dan beliau sama sama dicampakkan dari partai tersebut dengan istilah kepengurusan saya dibekukan, dan Gus Dur sebagai Ketua Dewan Suro dan pendiri PKB juga tidak perlu diperhitungkan alias dicampakkan oleh para pengurus politik, berdasarkan regulasi yang dibuat pemerintah melalui KPU dan lain sebagainya..

Suatu sore di Ciganjur

 Memasuki sebuah jalan desa yang sempit (lebarnya sekitar 3 meter), hanya beberapa ratus meter saja  dari jalan yang lebih besar dan padat, disebelah kiri jalan beberapa puluh meter dipinggir jalan desa tersebut, saya menuju rumah Gus Dur. Memang sebelumnya saya pernah ke tempat ini, tetapi dalam bentuk rombongan yang lebih besar, sehingga tak sempat memperhatikan hal hal yang lebih detail. Di depan rumah terdapat musholla yang ukurannya sekitar 8×8 meter, satu ruang tunggu kecil dan sederhana. Seorang penjaga, mungkin dari petugas keamanan menunggu di tempat itu, tak lama si petugas masuk ke rumah beliau untuk memberitahukan ada tamu dari Lombok.

Kurang dari sepuluh menit saya diperbolehkan masuk. Saya akan menemui seorang yang sangat terkenal di Indonesia dan dunia karena gerakan demokrasinya menentang pemerintahan otoriter rezim sebelumnya, karena pernah menjadi Ketua Tanfiziah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, karena beliau, pernah menjadi Presiden keempat  dari negara Republik Indonesia, karena beliau pernah menjadi pimpinan forum demokrasi di Indonesia.

Hari ini hari Rabu di sore hari, saya lupa tanggalnya, ditahun 2006, saya baru beberapa bulan menjabat sebagai bupati Lombok Timur untuk periode yang kedua. Hari ini saya akan berjumpa dengan sahabat saya, senior saya sesama aktivis, pemimpin saya sesama partai, suatu pertemuan yang telah lama saya azamkan. Beliau duduk sendirian  sambil melonjorkan kedua kakinya di atas karpet kemerahan diruang tamu yang penerangannya tanpak tidak  terlalu terang. Beliau mengenakan sarung palekat kotak kotak  dan baju kaos oblong. Assalamualikum. Walaikumsalam. Saya menyodorkan tangan untuk menyalami seorang tokoh dunia yang saya hormati. Saya menjelaskan tentang diri saya yang pernah bersama beliau dalam sebuah partai dan sama sama tidak lagi mengurus partai itu, saya mengenalkan diri saya menjadi bupati lagi setelah lima tahun beristirahat. Beliau tersenyum kecil. Beliau tidak melihat saya, karena penglihatannya sudah mulai menurun, kesehatannya juga sudah mulai menurun, tetapi beliau masih mengingat nama saya dari suara saya, “Ali Dachlan”, beliau terlebih dahulu  menyebut nama saya. “Enggih Gus” jawab saya dengan penuh hormat dan sayang.

Banyak yang ingin saya tanyakan pada beliau, terutama mengenai kebijaksanaannya ketika menjadi presiden Republik Indonesia. Tetapi saya harus berhati hati mengingat  kesehatan beliau, tetapi beliau mulai menyebut nama nama tokoh di NTB, khususnya di Lombok yang beliau kenal  sejak lama. Beliau juga menyebut sebuah nama yang lupa diingat karena pernah datang ingin menipu beliau, dengan cara membuat ramalan ramalan yang tidak masuk akal dan orang tersebut menyebut dirinya ahli tariqat, ceritra beliau. Beliau juga dengan rinci menyebut lokasi rumah si penipu itu. Beliau memiliki ingatan yang sangat kuat, termasuk  tentang seorang penipu dari Lombok. “Gus, apa sebenarnya tujuan bapak, ketika menjadi presiden, menaikkan gaji pegawai pemerintah yang sangat tinggi”?. Hal ini saya tanyakan, karena sebagai bupati, saya kesulitan menaikkan gaji pegawai, mengingat terbatasnya pendapatan di daerah.”O, begini, jika gaji pegawai sudah saya naikkan, nanti kalau dia korupsi, akan saya tembak!, gaji pegawai sekarang sangat kecil, mereka banyak yang miskin”. Jawaban beliau hingga sekarang tidak akan pernah saya lupakan. “Nanti kalau korupsi akan saya tembak”!.

Mungkin betul, jika beliau tidak dilengserkan sebagai presiden, sudah banyak koruptor yang di tembak, dan akhirnya orang lain tidak akan melakukan perbuatan korupsi lagi. Sekarang juga pemerintah terus menerus menaikkan gaji pegawai, namun korupsi semakin meraja lela di mana mana, melebihi jaman Gus Dur. Orang- orang korupsi di Indonesia adalah pejabat dan angguta DPR, yang oleh beliau disebut sebagai murid taman kanak kanak, dan akhirnya DPR juga dibubarkan Gus Dur. Beliau akan melakukan pemilihan umum untuk mencari anggauta DPR yang bukan dari kelas taman kanak kanak. Para pejabat, para menteri yang korupsi tidak selalu gajinya kecil, tetapi rata rata mereka adalah para fungsionaris partai atau mereka yang dekat dengan pimpinan partai. “Di tembak” menurut Gus Dur, mungkin memang  benar, maka akan banyak pemimpin partai akan mati ditembak, maka akan tinggal orang orang yang baik di negara ini. Cita cita beliau yang suci tidak terlaksana, karena terlalu banyak petualang politik dan bandit  berkeliaran di sekitar kekuasaan oligarki ini.

Sejak meninggalkan kediaman beliau di Ciganjur, saya terus merenungkan ucapan yang sederhana, tapi penuh kedalaman makna. Beliau mengatakan “terlalu banyak maling di negeri ini”. beliau sangat sedih dengan keadaan negerinya, beliau seorang pemimpin sejati, pemimpin sederhana, pemimpin yang berwawasan dunia.

Saya teringat beberapa tahun sebelumnya ketika saya duduk didekatnya, banyak orang memijit tangan dan kakinya, mungkin sebagai tanda bakti dan kecintaannya pada beliau sebagai guru atau tokoh yang dikaguminya. Tiba tiba beliau mengatakan “tidak usah salaman, tidak usah dipijit saya”. Semua  orang segera melepas tangan dan kaki beliau yang sedang dipijit perlahan. Saya merenungkan kejadian beberapa tahun sebelumnya, mungkin beliau tahu bahwa tidak semua orang yang datang padanya adalah orang yang tulus. Mungkin ada di antara yang datang sekelas penipu dari Lombok yang menyebut dirinya ahli tariqat, dihadapan seorang ahli tariqat sejati, beliau Gus Dur, sahabatku, pimpinanku dan kesayanganku.

Membubarkan beberapa Departemen.

Presiden Abdurrachman Wachid di awal pemerintahannya mulai meningkatkan  gaji para pegawai. Beliau juga membolehkan setiap pegawai naik pangkat, tidak perlu melihat jenjang pendidikannya. Beliau menghargai pegawai bukan karena ijazah sekolahnya, melainkan kemampuannya dalam bekerja. Saya yakin semua tindakannya sebagai presiden, adalah  hal yang sudah lama dipikirkannya, jauh sebelum beliau menjadi presiden. Beliau berpendapat bahwa seseorang dihargai bukan karena ijazahnya, melainkan kinerjanya , kejujurannya dan kebaikannya, bukankah hal ini juga berlaku pada negara lain yang peradabannya telah maju?

Saya tidak menanyakan mengapa beliau membubarkan Departemen Penerangan dan Departemen Sosial. Luar biasa ! Sangat mengejutkan, bagaimana beberapa departemen yang sebelumnya menjadi corong pemerintah, tiba tiba presiden Gus Dur, dengan kewenangannya membubarkannya dalam sekejap saja. Departemen Sosial yang menjadi  tangan pemerintah untuk dikatakan sebagai sinterklas rasa cintanya pada masyarakat miskin, ternyata menjadi sarang penyamun yang dijadikan alat politik oleh kekuasaan. Orang bertanya kepada Gus Dur, mengapa Departemen Sosial dibubarkan?. Gus Dur menjawab “karena terlalu banyak tikus”. Mengapa Gus Dur membakar lumbungnya, bukan tikusnya saja?. Gus Dur menjawab, “tikusnya sudah menguasai lumbung”. Menteri sosial, dipenjarakan karena korupsi, bukan hanya di era Jokowi saja, bahkan sejak era Soeharto pun sudah banyak pejabat kemetenrian sosial yang menjadi penghuni hotel prodeo.

Sebenarnya, kementerian sosial tidak perlu ada di Indonesia, jika mereka hanya mengincar kesempatan untuk memanfaatkan segala bantuan pemerintah yang akan dijadikan modal untuk mengekalkan kekuasaan. Kebanyakan negara tidak memiliki kementerian sosial, tetapi pemerintah menyalurkan bantuannya melalui lembaga kemanusiaan  non pemerintah dan LSM LSM yang peduli terhadap masalah sosial. LSM pengemis dan gelandangan, LSM yang peduli pada HIV/AID, LSM yang peduli pada orang miskin, pendidikan, ksehatan dan lain sebagainya. Hal itulah yang dipikirkan oleh Gus Dur, sesuatu yang sering kali kami kritisi dalam berbagai pertemuan organisasi non pemerintah. Mungkin hal itulah yang mendasari beliau membubarkan kementerian gudang korupsi itu, yang konon menjadi incaran dari partai partai politik di Indonesia.

Departemen Penerangan, di jaman Orde Baru, menjadi corong satu satunya dari pemerintah yang berkuasa. Kementerian/departemen penerangan memonopoli pemberitaan di televisi, radio dan koran koran yang ada di Indonesia. Salah satu produk dari kementerian ini yang paling terkenal adalah “kelompen capir”, yakni mengelompokkan masyarakat desa (petani, nelayan. buruh, pedagang), lalu dilakukan lomba tanya jawab yang menjawabnya dari pihak pemerintah. Media lain  non pemerintah sangat terbatas, dan kementerian penerangan mengontrol dengan ketat setiap informasi yang tendensinya mengkritik kebijakan pemerintah.

Telah banyak media menjadi korban “breidel”, atau dilarang terbit. Saat itu belum ada medsos, internet dan lain lain. Gus Dur berpendapat, tak akan ada kemajuan jika tak ada kebebasan berpendapat. Karena itu Departemen Penerangan harus dibubarkan Menteri Penerangan pada saat itu adalah pak Harmoko. Beliau paling banyak muncul di radio (RRI), televisi (TVRI) dan media pers pro pemerintah pada saat itu. Pada saat itu pula, ada sindiran dari masyarakat yang membuat akronim dari nama menteri penerangan Harmoko, hari hari omong kosong. Setiap hari beliau tampil di media dengan suara yang mantap menjelaskan arti setiap kata dari kebijaksanaan pemerintah. Tentu saja hal tersebut, memang seharusnya dilakukan oleh seorang menteri yang dijuluki menteri penerangan. Tetapi Gus Dur, harus membubarkannya, karena telinga rakyat sudah sangat “kemeng”  bosan  dan jengkel mendengar satu suara yang diucapkan berulang ulang dalam waktu berpuluh puluh tahun lamanya.

Akan tetapi  seketika setelah maulana Gus Dur dilengserkan oleh MPR, semua lembaga yang elah ditutup dibuka kembali. Departemen Sosial diganti namanya Kementerian Sosial. Sedangkan Departemen Penerangan diganti namanya Menkominfo. Departemen Penerangan selain diganti dengan Menkominfo ada lagi tambahannya yakni KSP (Kepala Staf Kepresidenan). Mereka yang duduk dalam kelompok ini merangkap sebagai juru bicara presiden. Jika di jaman Soeharto hanya ada menteri penerangan, maka di jaman Jokowi mereka yang bertindak seperti pak Harmoko dahulu, kini menjelma menjadi segerombolan juru bicara yang berebutan menyampaikan pesan pesan yang dapat ditafsirkan sendiri sendiri. Sedangkan menteri komunikasi dan informasi, seperti biasa di jaman Orde Baru dahulu, peranannya selain sebagai regulator, juga sebagai tukang breidel konten konten yang dianggap sebagai kelompok yang mengganggu kebijaksanaan pemerintah. Ini berarti perubahan kementerian penerangan yang dibubarkan Gus Dur, dirapikan dan digemukkan sesuai dengan perkembangan jaman.

Selain jumlah juru bicara kepresidenan yang sangat gemuk, bala bantuan lain juga ditata dengan rapi. Mereka adalah juru bicara dengan cara yang berbeda, mereka diberi julukan buzzer. Para buzzer dipelihara dan dibiayai oleh anggaran dari pemerintah. Jumlahnya juga tidak sedikit, melebihi juru bicara dari kantor KSP. Buzzer mungkin sah sah saja dinegara lain, akan tetapi di negara pancasila sebenarnya sangat tidak tepat, karena mereka dibayar untuk membuat konten yang membunuh karakter dengan menghalalkan segala cara yang tidak terpuji. Mungkin mereka berpendapat, layaklah sebuah perbuatan tak terpuji dilawan dengan cara tak terpuji, atau  lebih baik menjadi sesama tidak terpuji saja. Ini adil katanya, kata para buzzer tersebut.

Bisikan Gus Dur.

Ketika beliau pada tahun 2007 berkesempatan mengunjungi saya di Lombok Timur. Saya satu mobil dan  duduk di depan, sementara beliau dan TGH Turmuzi Badaruddin duduk di bagian belakang. Beliau dengan suara datar menjelaskan” sudah lama saya hendak dibunuh, juga melalui umpan dengan perempuan, tapi alhamdulillah, tujuan mereka tidak tercapai”.

Ungkapan beliau  kiranya tidak dapat dipungkiri, karena para penguasa di berbagai belahan  dunia menggunakan segala cara untuk menghilangkan nyawa lawan politiknya. Ingat dengan Mahatma Gandi, Martin Luther King, Malkom X, Jamal Kasoghi, Munir, dll. Mereka dibunuh oleh kekuasaan melalui kaki tangannya yang sangat rahasia. Di jaman dahulu ada istilah dikarungkan, disukabumikan atau dibalikpapankan, artinya dilenyapkan.

Ada lagi cara untuk melemahkan Gus Dur secara politik, yakni dengan membuat peraturan dalam pemilihan umum, yakni tidak diperlukannya lagi  Dewan Suro dari Partai Kebangkitan  Bangsa untuk menentukan kebijaksanaan dari partai tersebut termasuk keabsahan surat keputusan organisasi politik. Anggaran Dasar dari Partai tersebut yang memberikan hak kepada Dewan Suro dianggap tidak ada oleh sebuah peraturan yang dirancang oleh pemerintah atau lembaga yang dibuat oleh pemerintah. Ketentuan tersebut pada dasarnya adalah pembunuhan karakter beliau dalam perannya dalam bidang politik melalui partai yang dibuatnya sendiri. Saya tahu beliau sedih sekali atas hal tersebut, tetapi sekali lagi beliau memperlihatkan kepada kita semua, biarlah mereka melakukan hal tersebut, karena tak ada gunanya mempertahankan sebuah jabatan, karena beliau tidak mengejar jabatan apapun, kecuali beliau hanya ingin agar bangsa ini menjadi lebih baik.

Pemimpin besar.

Beliau tak pernah menaruh dendam pada siapa pun juga. Ketika beliau menjadi presiden, beliau menemui mantan presiden Soeharto yang selama puluhan tahun terus dikritiknya atas berbagai kebijaksanaannya yang dianggap tidak demokratis. Beliau membedakan kritiknya pada seseorang atas nama kekuasaan, bukan atas nama persaudaraan di dalam islam.

Ketika itu, banyak para pejabat di jaman Soeharto bersembunyi dan menjauh dari mantan presiden Soeharto, Gus mengunjungi pak Harto. Gus Dur juga mengunjungi, Pramudya Ananta Toer, mantan pimpinan Lekra /PKI  yang puluhan tahun menjadi orang buangan politik di pulau Buru. Beliau tidak memperdulikan pendapat orang, karena beliau ingin memperlihatkan kepada kita semua, bahwa bangsa ini akan maju jika tidak ada dendam kusumat. Jika seandainya beliau masih hidup dewasa ini, pasti beliau akan sedih melihat perpecahan yang masih terjadi dalam negara Indonesia tercinta ini. Gus Dur, berisrahatlah dengan tenang di surgaNya. Amin.

Senggigi,31 Desember 2020,

Menampilkan lebih banyak

Artikel terkait

Sebuah Komentar

  1. saya putra Muhammad amin noor bin Muhammad nur & fatimah binti amaq muhyi klayu. semoga mbah ali sehat selalu, salam dari keluarga di surabaya

Tinggalkan Balasan

error: Content is protected !!
Close
Close
%d blogger menyukai ini: