Opini dan Artikel
Trending

USTAZ MAHEER MATI DALAM TAHANAN

NABI MUHAMMAD PEMAAF YANG AGUNG.

Ketika nabi Muhammad dengan ribuan  pengikutnya memasuki kota Mekkah, lalu merobohkan segala macam berhala yang menempel didinding ka`bah,lalu sholat berjamaah  mengelilingi  ka bah,lalu berbaris orang orang Mekkah menyaksikan kejadian yang luar biasa yang tak pernah dilihatnya,semua bersujud dalam sholatnya,kerumunan orang orang musrik itu ketakutan melihat peristiwa yang tak pernah dilihatnya sepanjang hidupnya,mereka sangat takut dan gelisah,Lalu Muhammad mendekati mereka lalu bertanya”apakah kira kira yang akan saya lakukan pada kalian?”.”Kebaikan”,karena bukankah engkau adalah saudara dari saudara saudara  kami yang mulia”,jawab mereka penuh ketakutan.”Pergilah kalian,kalian semua bebas,kalian semua saya maafkan”.Allah mengampuni kalian,karena Allah maha pengampun”.Sejak saat itu berbondong bondong orang masuk kedalam agama Islam,dari seluruh penjuru dunia..

Setahun sebelum perisiiwa itu memang ada perjanjian Hudaibiah  antara orang kafir pimpinan Abu Sufyan dan orang Islam pimpinan nabi Muhammad yang isinya penundaan ziarah ke Mekkah pada satu tahun kmudian,walaupun seandainya Muhammad mau memaksakan kehendaknya,karena jumlah rombongannya lebih banyak dibndingkan dengan penduduk Mekkah saat itu,NAMUN NABI Muhammad tidak melakukannya.Namun Muhammad dengan penuh kesabaran,menunggu satu tahun kemudian.Dan peristiwa diatas adalah hasil dari kesabaran yang tulus.Hasil dari maaf yang tulus,dikemudian hari menyebabkan Islam berkembang dengan sangat pesat.

USTAZ MAHER DITAHAN KARENA MENGHINA HABIB ALWI ?.

Siapa yang tak kenal dengan Habib Alwi?.Beliau adalah seorang pendakwah,seorang pengurus dari orgnisasi Nahdlatul Ulama,tetapi juga menjadi anggauta Wantimpres,alias Dewan Pertimbangan Presiden.Itu artinya Habib Alwi juga duduk sebagai politikus ketika mana duduk sebagai Dewan Pertimbangan Presiden.Imam Gazali sebagai seorang ulama besar,seorang filsup mengundurkan diri sebagai wantimpres di Bagdad,karena beliau menyimpulkan,bahwa tempat itu tidak tepat untuk seorang ulama bahkan untuk semua ulama

Pada tahun 2007,saya melaporkan seorang yang telah mnyebarkan fitnah terhadap diri saya,dengan memberi saya gelar murtad.Saya diceritrakan sebagai seorang murtad,karena telah berpindah agama dari Islam menjadi Kristen,lengkap dengan ceritra ceritra yang dikarang oleh yang bersangkutan.Memang pada waktu itu sebentar lagi akan ada pemilihan  bupati.Karena semua pemberitaan itu adalah fitnah belaka,saya melaporkannya kepada polisi.Saya diperiksa sebagai pelapor beberapa kali dan orang yang dilaporkan juga sudah diperiksa.Apa alat buktinya?Hanya selembar koran lokal yang menyiarkan berita bohong tersebut.Beberapa bulan kemudian,saya dilaporkan bahwa laporan saya sudah lengkap dan segera akan dibawa ke penuntut umum.Saya merenung sejenak,saya merenung tentang nasib saudara sesama Islam yang akan dijebloskan kedalam penjara,sementara dia hanya mengatakan bahwa iri saya sudah tergolong murtad,karena telah meninggalkan agama Islam,walaupun hal itu saya tahu hanyalah rekayasa dari lawan politik”Ah,biarkan saja,saya maafkan,tidak perlu ditersukan”Hingga kini saya tetap bersahabat dengan yang bersangkutan dan meminta maaf pada saya dikemudian hari dan menjelaskan bahwa berita itu saya dapatkan dari si ini,si itu.Ya sudah lupakan saja.Bukankah semua orang tahu bahwa saya sesungguhny seorang aktifis muslim sejak saya duduk di bangku SMP hingga hari ini?Lalu apa yang dijadikan dasar melaporkan Ustaz Maaher dengan tuduhan menghina Habib Alwi?.Bukankah ustaz Maaher dan Ustaz Habib Alwi sama sama sebagai ustaz?.Kedua mereka sama sama sebagai pendakwah?.Hanya yang satu pendakwah murni dan yang satu lagi sebagai aktifis organisasi dan sebagai politisi?Bukankah sesama uztaz dalam dunia Islam sudah menjadi kebiasaan berbeda pendapat dan saling mengkritisi?.Bukankah Imam Gazali keluar dari wanitimres di Bagdad juga sebagai kritik terhdap ulama lain yang masih lengket dengan pintu kekuasaan?Bukankah,seorang politisi wajar mendapat kritik,walaupun hanya hal sepele,seperti busana yang mnyerupai tudung saji atau jilbab?Untuk iiu maka bagian ini tidak perlu dibahas.Tetapi mengapa polisi demikian sigapnya menahan ustaz Maaher padahal masalahnya sangat sepele apakah karena bersentuhan dengan kekuasaan?.Kita tidak paham hal tersebut.

PENGHINAAN ADALAH DELIK ADUAN

Penghinaan, baik dalam KUHP maupun UU ITE dikatagorikan sebagai delik aduan(klach delict),yang berarti bahwa tindakan tersebut menjadi dikatakan sebagai perbuatan pidana jika ada orang atau pihak lain yang mengadu atau keberatan.,lalu pengadlan menyatakan bersalah.Untuk jenis tindakan pidana yang didasarkan pada delik aduan,biasanya hampir seluruhnya masuk daftar pasal  pasal karet,tentang ujaran kebencian(haatzaai artikelen),artinya dapat diartikan  dan ditafsirkan secara lebih luas menurut pandangan setiap orang..Dalam Kitab Undang Undang Hukum Pidana pasal pasal tentang penghinaan dan sekarang lebih umum  istilah pencemaran nama baik dapat dilihat pada pasal 310 sampai pasal 321,sedangkan pada Undang Undang ITE,yakni Undang Undang No19 tahun 2016 sebagai pembaharuan atas Undang Undang No.11/2008,tentang informasi dan transaksi elektronik,maka hal tersebut dapat dilihat pada pasal 45,khususny pada ayat 3.Sebagai contoh pada pasal 45 ayat 3 berbunyi sbagai brikut”setiap orang yang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya informasi lektronik dan/atau dokumen elktronik yang memiliki muatan penghinaan dan/atau pencemaran nama baik sebagaimana dimaksud dalam pasal 27 ayat 3 dipidana dengan pidana penjara paling lama 4 tahun dan/atau denda paling banyak 750 juta rupiah”.Dari contoh tersebut,sudah terlihat perbedaan yang sangat mencolok.Padahal dalam KUHP juga telah tertera kata disiarkan,artinya mealui media penyiaran sepeti koran,selebaran,media sosial media televisi atau media penyiaran apapun yang dapat menyebarkan konten yang diduga mencemarkan nama baik tersebut.

Mari kita sandingkan dengan pasal 310  ayat 1 ,dari Kitab UndangUndng HukumPidana yang berbunyi sebagai berikut”barang siapa sengaja menyerang kehormatan atau nama baik seseorang dengan menuduhkan suatu hal yang maksudnya terang supaya hal itu diketahui umum,diancam karena pencemarn dengan pidana penjara paling lama sembilan bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah.2.Jika hal itu dilakukan dngan tulisan atau gambaran disiarkan,dipertunjukkan di muka umum,maka diancam karena pencemaran tertulis dengan pidana penjara paling lama satu tahun empat bulan atau pidana denda paling banyak  empat ribu lima rtus rupiah.

Pasal pasal tersbut layak didiskusikan,karena terlalu mncolok perbedaan besar hukumannya,walaupun sama sama delik aduan.Demikian pula dalam pasal pasal UU ITE,denda dianggap sebagai tambahan hukuman sedangkan dalam KUHP denda dapat sebagai pengganti hukuman.Namun uraian ini tidak dimaksudkan untuk mengalihkan pokok yang dibahas,terutama mengenai kasus yang menimpa Ustaz Maaher,yang meninggal dalam tahanan polisi untuk kasus pencemaran nama baik,dengan mengajukan beberapa pertanyaan.Pertama apakah kasus kasus pencemaran nama baik harus ditahan dengan segera,padahal dalam kasus kasus lain (misalnya kasus Permadi Arya,seorang buzer pendukung Jokowi walupun dilaporkan bertubi tubi tidak prnah ditahan?.Atau kasus Sukmawati yang mempesamakan Nabi Muhmmad dengn Ir.Sukarno.Mereka tidak diproses secara memadai.Kedua ,pihak penegak hukum sudah mengetahui,bahwa Ustaz Maaher dalam keadaan sakit,mengapa tetap ditahan,bukan diinapkan saja dirumah sakit sampai beliau benar benar sembuh?.Ingat sampai hari Senin jam 7 malam ketika Ustaz Maaher meninggal dunia,beliau bukan pesakitan.Semua pihak harus menganut asas praduga tak brsalah,sampai pengadilan menyatakannya bersalah.Para ahli keluarga,penasihat hukum meminta agar yang bersangkutan ditahan luar,tetapi mengapa polisi tidak mengindhkan asas praduga tak berslah dan asas kemanusiaan?.Bukankah Ustaz Maaher ditahan berdasarkan pasal delik aduan,bukan tahanan teroris atau tahanan koruptor?..Ingat bahwa semua tersangka tidak harus ditahan,seperti Permadi Aria dan lain sebagainya.

UNDANG UNDANG NO.2/2002,Undang Undang Kepolisian Republik Indonesia adalah Undang Undang sebagai produk awal reformasi.

Sejak reformasi di Indnesia 1998 yang lalu,lebih dari 75 Udang Undang zaman Orde baru telah diubah dengan Undang Undang yang baru,undang undang reformasi.Salah satunya adalah Undang Undang Kepolisian ,Undang Undang No.2/2002.Petama bahwa sebelumnya, Kepolisian adalah bagian dari Angkatan Bersenjata Indonesia(ABRI),dan yang kedua dipisahkannya Kepolisian dari Abri dengan penekanan yang diuraikan oleh Keputusan MPR no.VI/MPR/2000.tentang pemisahan Tentara Nasiona Indonesia dan Kepolisian Negara Republik Indonesia,dan Tap.MPR,No.VII/MPR/2000,tentang pern Tentra Nasional Indonesia dan peran Kepolisian Negara Republik Inonesia.Dalam  pasal 19 ayat i dari Undang Undang ini,Dalam fasl 19 ayat1,dari UU.No.2/2002,disebutkan sebagai berikut”Dalam menjalankan tugas dan wewenangnya,pejabat Kepolisian Negara Republik Indonesia senantiasa bertindak berdasarkan norma hukum dan mengindakan norma agama,,kesopanan,kesusilaan serta menjunjung tinggi hak asasi manusia.

Pasal 19 Undang Undang Kepolisian,UU.No.2/2002,saya kemukakan karena berhubungan erat dengan norma agama,khususnya agama Islam.Pertama ,kedua orang yang  diperkirakan berselisih adalah sama sama sebagai ustaz,hanya saja kedudukannya yang berbeda.Pertama pak Ustaz Aliwi berkedudukan  dipemerinhan, berbeda dengan Ustaz Maaher.Pandangan tersebut perlu dikemukakan,karena pertanyaannya adalah mungkinkah polisi dengan cepat menangkap Ustaz Habib Alwi,seandainya Ustaz Maaher melaporkannya?.Kedua,bahwa dalam tradisi Islam,pada dasarnya para ulama saling memaafkan sesama mereka jika terjadi perbedaan,sehingga timbul pertanyaan,apakah polisi pernah menghubungi ustaz Alwi ,bahwa beliau diwakili seseorang atas namanya melaporkan ustaz Maher?.Jika sudah dilakukan,apakah ustaz habib Alwi akan meneruskan laporan tersebut atau agar memaafkan Ustaz Maaher,agar perkara  tersebut tidak menimbulkan perpecahan dalam kalangan ummat Islam itu sendiri?

Selain mengikuti norma hukum,norma agama,kesusilaan,kesopanan,polisi Indonesia harus menjunjung tinggi hak asasi manusia.Seorang ulama,ustaz atau para pemimpin agama,harus diletakkan sesuai dengan kedudukan mereka berdasarkan norma agama,yakni penghormatan  dan kesopnan yang  menjadi tradisi ummat Islam yang menghormati para pemimpin agamanya.Bagian ini menjadi sangat penting jika kita kaitkan dengan penghormatan atas hak asasi manusia.Dalam pasal 28,UU.No.2/2002,disebutkan bahwa anggauta,Kepolisian Negara Republik Indonesia  harus bersikap netral dalam kehidupan politik dan tidak melibatkan diri pada kegiatan politik praktis.Jika dikaitkan dengan politik maka kedudukan Ustaz Maaher dan Ustaz Habib Lutfi sangat berbeda,karena Ustaz Maher tidak menjadi apa apa,sedangkan Ustaz Habib Alwi adalah wamtimpres,sebuah jabatan poitik tingkat tinggi,tentu saja hanya polisi yang tahu dirinya netral atau memihak.

PENINJAUAN UU ITE.

Tiba tiba terdengar dari kalangan atas sana,bahwa Undang Undang ITE akan segera direvisi.Mungkin kalangan atas sana mulai terganggu dengan hiruk pikuknya masyarakat yang saling lapor,dengan mana pihak penegak hukum juga ikut ikutan menjadi sibuk.Saya kira bukan karena itu saja,tetapi keretakan bangsa mulai terasa,perpecahan mulai terlihat dan suasana kebangsaan mulai tegang dan kaku.Akan tetapi jika ingin disederhanakan,jelas bahwa yang saling lapor terdiri dari dua kelompok,yakni kelompok pro pemerintah,melaporkan kelompok lain yang  bersebrangan dengan pemerintah.Kalangan umum menyebutkan buzerlah tukang lapor dan penegak hukum dengan sigap menanganinya.Bahkan sudah banyak mereka yang dilaporkan telah menerima akibatnya dalam bentuk hukuman penjara.Si pelapor tertawa kegirangan dan kebencian menggumpal dalam kelompok masyarakat yang lain.Ustaz Maaher adalah korban pelaporan dari orang,bukan dari ustaz Habib Alwi,tetapi polisi tetap menahannya,walaupun yang konten yang dilaporkan  hanyalah delik aduan.

Lalu mengapa UU ITE  perlu direvisi?.UU ITE itu memang gila.Soal delik aduan sudah tertulis terang benderang dalam KUHP,mengapa ada lagi KUHP baru yang mencantumkan pasal yang sama dengan arti yang  berbeda?(lihat pada pasal pasal  27 s/d 36 UU no.11/2008,penuh dengan pasal ancaman,dan pasal 45 dari undang undang ITE revisi,UU No.19/2016 khususnya pada pasal 45 ayat 5 yang menjelaskan tentang kedudukannya sebagai delik aduan,tetapi dengan hukuman yang sangat berat,jika dibandingkan dengan pasal pasal delik aduan yang terdapat dalam KUHP.Pasal karet inilah yang telah digunakan menjerat Ustaz Maaher dan para aktifis lainnya.Dan tiba tiba presiden Jokowi minta masyarakat tidak takut mengeritiknya,sesuatu yang sangat menarik dan akan kita bahas dalam catatan yang lain.Pasal pasal karet ini  sesunguhnya telah diprotes oleh HOS Cokroaminoto,sebagai anggauta volksraad pada jaman kolonial,sayang sekali kita masih memperdebatkannya setelah 75 tahun Indonesia merdeka.

USTAZ MAAHER MENINGGAL DALAM TAHANAN.

Ustaz Maaher,akhirnya meninggal dalam tahanan.Apapun alasannya,tetapi jelas beliau ditahan karena laporan seseorang tentang sesuatu yang amat sepele.Sayangnya yang melapor adalah kelompok yang tidak senang kiayinya disentuh,walaupun hanya tentang gaya pakaian atau busana kearab araban yang sama sama digunakan oleh kedua ustaz itu.Ustaz Habib alwi adalah wantimpres,sedang ustaz Maaher hanyalah ustaz biasa saja.Seandainya pihak penegak hukum menggunakan dengan baik UU.no.2/2002,khususnya pada fasal 19 ayat 1 yang mengharuskan polisi agar mngindahkan kesopanan,kesusilaan dan norma agama,maka Ustaz Mahher seharusnya  tidak perlu ditahan,lebih lebih jika dikaitkan dengan  delik yang disangkakan termasuk delik aduan,lebih lebih jika seandainya pihak polisi telah terlebih dahulu mengetahui  bahwa Ustaz Maaher memang memiliki penyakit. ;atau dalam keadaan sakit,seharusnya diinapkan di rumah sakit saja.

Sebelum seseorang ditetapkan sebagai tersangka,sebaiknya memeriksa saksi pelapor secara cermat,baik mengenai legal standing,motif maupun hubungannya dengan pihak yang diwakilinya.Seandainya tahapan tahapan tersebut dilakukan dengan baik,polisi cukup menelpon pak Ustaz Habib tentang laporan tersebut,lalu meminta tanggapannya dan apakah akan diteruskan atau tidak.Inilah yang dimaksud norma agama dalam Islam,yakni suka saling memaafkan seperti yang dicontohkan dalam awal tulisan ini yang dicontohkan oleh Rasulullah yang konon adalah kakek moyang para habib di Indonesia.Demikian pula,jika polisi dapat bersikap adil mengenai segala kasus ITE yang dilaporkan kepada polisi,dan polisi bisa menyelesaikan dengan cara damai,UU ITE yang sedang digunjingkan bahkan mungkin tidak perlu direvisi,kecuali menyesuaikannya dengan pasal pasal yang ada dalam KUHP kita.Ustaz Maaher,selamat jalan,tinggalah  dialam barzah dengan tenang.Semoga ustaz habib dengan ihklas meminta maaf kepada semua keluarga dan murid ustaz Maher.Amin.

Senggigi, 20 Pebruari 2021

Menampilkan lebih banyak

Artikel terkait

Tinggalkan Balasan

error: Content is protected !!
Close
Close