Kumpulan Cerpen
Trending

TAMPAH BOLEQ

Laki laki itu berdiri disebuah panggung sederhana,pada sore yang cerah hari Sabtu itu.Sambil mengarahkan telunjuk tangannya kearah tanah yang terhampar luas di tepi pantai Selatan yang indah itu,laki laki itu memulai pidatonya yang bersemangat”Saudara saudara!,tanah ini adalah warisan dari leleuhrmu,nenek moyangmu sejak ratusan tahun yang lalu.Kalianlah yang memilikinya sekarang ini dan bahkan hingga hari kiamat nanti.Tak seorangpun boleh mngambilnya,tak seorangpun!.Siapapun dia,walau pangkatnya setinggi langit.Kau semua harus mempertahankannya,Titik”cetusnya.Sebelum mengakhri pidatonya,terdengar gemuruh tepuk tangan dan teriakan dari ratusan orang yang mengerubungi panggng reot itu”hidup pak bupati,hidup pak bupati” teriak mereka.

Walapun pidato itu sangat penting sebagai ungkapan sikap pembelaan terhadap hak hak rakyat setempat, ternyata tidak semua yang hadir menaruh minat pada isi pidato tersebut.Bahkan ribuan orang yang hadir, lalu lalang dengan kesibukan masing masing sambil memperebutkan  lahan tempat berjualan,tempat berkemah,tempat memasak dan tempat cngkarama,pacaran,sendagurau,dan sebagan  para pemuda desa setempat,tidak mnggubris lelaki dan pidatonya.Tua,muda, dan  anak anak berseliweran disepanjang pantai dengan hamparan tanah datar yang indah itu.Pidato tidak penting.Untuk apa pidato pidatoan.Semua mereka sibuk mengambil tempatnya masing masing.”Nanti malam tempat ini akan lebih ramai lagi dibanding sore ini”cetus si Udin yang berada di dekat lelaki  yang baru saja turun dari panggung kampanye yang sederhana itu.Malam ini,malam penting bagi masyarakat disekitar tempat ini.Nanti dipagi subuh,mereka akan menangkap “nyale”.kegitan menangkap nyale itu usianya sama dengan usia tanah leluhur mereka yang ada di tempat ini.Nyale itu bagi mereka bukan sekadar cacing laut,tetapi memiliki hubungan suci dengan kehidupan leluhur mereka sejak jaman purba,1300 tahun silam.Cacing itu juga sebagai isyarat dan ramalam kehidupan masyarakat untuk tahun berikutnya.Demikianlah pada setiap tahun akan ada lagi upacara serupa yang juga akan meramalkan kehidupan kelompok masyarakat itu untuk tahun selanjutnya.Demikianlah sepanjang sejarah mereka dengan leluhurnya,hal itu akan terus berulang,seperti arus dan glombng di laut selatan

Walaupun jaman telah merambat  terlalu jauh,bau nyale terus akan ada,walaupun isi dan maknanya mungkin telah ikut larut dalam gelombang perubahan itu.Si Udin mengajak lelaki itu berkeliling melihat keramaian senja itu.tapi dengan alasan yang tak jelas,lelaki itu menolak dengan cara halus.Mungkin ada yang tidak sesuai dengan apa yang dilihatnya,tidak sesuai dengan apa yang dipahaminya,tidak sesuai dengan apa yang diucapkan dalam pidato emosional yang diucapkan beberapa puluh menit yang lalu;mungki juga tak terlalu senang dengan kebanyakan anak muda yang tak tertarik mendengar isi pidatonya yang sangat penting itu.”Terlalu banyak mobil dan debu disini,terlalu bising dengan musik,dagang obat dan bau farpum orang kota.” Kata lelaki itu.Lelaki itu resah,karena  tidak melihat apa yang terbayang dengan ceritra para  leluhur mereka yang terdahulu,penuh kesucian,kesederhanaan dan kerendahan hati”Saya pulang dulu,karena masih banyak kesibukan”cetus lelaki itu,sambil permisi dengan hormatnya kepada mereka yang selalu mendengarkan petuah si tukang pidato itu.Upacara belum mulai dan malam ini akan semakin panjang dan ramai.Suara deru mobil dan motor terus bergantian datang, dan lelaki, perempuan entah dari mana tumpah ruah di tanah datar dipinggir pantai selatan yang legendaris itu.Lelaki itu telah pergi dengan penuh perasaan ragu,apakah ungkapan pidatonya tadi sore akan merasuk kedalam jiwa dan pikiran mereka yang mendengarkannya?.

Dunia Selatan,dunia khusus.Kehidupan masyarakatnya,kehidupan yang khusus.Bahasanya dan nyanyannya,irama musiknya semuanya  khusus.Para pemimpinnya,pemimpin yang khusus.Karena merkalah yang paling berhak dan paling mahir meramalkan masa depan kelompok mereka,bahkan juga meramalkan  waktu kapan cacing laut itu akan menampakkan dirinya dipermukaan laut.Cacing yang akan muncul malam ini nanti,juga ditentukan oleh para pemimpin .Kehidupan para pemimpin,masayakat dan cacing itu,seperti tri tunggal yang tak mungkin dapat dipisahkan oleh zaman yang terus berubah.Ini sudah keputusan Tuhan,sudah takdir untuk mereka.Cacing yang penuh berkah dalam kehidupan mereka,mengikat mereka dalam kerukunan abadi dalam mengarungi jaman ,sejak nenek moyang mereka.Pertanian sebagai sumber kehidupan ekonomi tak mungkin dipisahkan dengan cacing yang disucikan,karena padanyalah melekat kesucian cinta seorang gadis pada tanah leluhur dan peradabannya.Semuanya menyatu pada tradisi yang akan tetap dipertahankan oleh mereka.

Orang yang lalu lalang,bergandengan tangan,berpelukan dalam remang remang malam suci ini,pastilah bukan dari kelompok leluhur mereka.Pasti mereka orang asing yang tak tahu adat istiadat.Mereka yang tidak paham  dan tidak tahu tentang sopan santun,keluhuran,kesucian,kejujuran ,mereka adalah pecundang,perusak nilai yang telah diagungkan oleh kelompok khusus itu.Cacing itu bukan hanya untuk dimakan,tetapi unuk menyempurnakan hubungan diantara  mereka dengan alam,tanah leluhur,dan nilai hubungaan batin antara cinta,rasa hormat dan ketaatan pada pranata yang telah disusun oleh leluhur mereka.,ratusan bahkan ribuan tahun yang lalu.Biarkanlah mereka,bukan orang lain.Biarkanlah mereka,bukan atas nama kesenangan dan perdagangan,bukan atas nama pariwisata dan kemewahan,biarkan mereka,karena merekalah pemiliknya,pemilik semua yang ada diwilayah yang indah seperti noktah jaman,noktah kebajikan,kesederhanaan dan kemuliaan.

Lelaki itu telah meninggalkan tempat tanah itu.Malam terus berlalu dan ribuan orang berdatangan dari segala penjuru,malam ini akan ada peristiwa yang telah ditetapkan hari dan tanggalnya oleh mereka sebagai pewaris dari jaman yang telah jauh berubah,”bau nyale”.ribuan orang yang hilir mudik,bersembunyi disetiap rerimbunan semak,akan terus menikmati sunyinya malam ini,sunyi dari penglihatan orang lain,karena semua menyembunyikan diri dari yang lainnya,mereka datang untuk acaranya sendiri,menumpang pada milik orang lain,milik manusia selatan,manusia pesisir yang sederhana,yang malam ini tetap tinggal dirumahnya menunggu saat fajar tiba,ketika putri itu muncul dari peraduannya yang dirahasiakan,lalu para petani akan menangkapnya penuh kasih,lalu cacing itu akan dipersembahkan kepada dewa padi yang memberikan rizki kehidupan sejak jaman leluhurnya terdahulu.

Enam bulan kemudian,lelaki sederhana yang berdiri diatas panggung yang sederhana,lalu berpidato dengan bahasa sederhan “tanah ini adalah milikmu,tanah ini adalah warisan leleuhurmu,harus kamu jaga,kamu pelihara,kamu pertahankan,tidak boleh kamu jual,kamu gadaikan,tak ada yang berhak kecuali kamu dan keturunanmu,harus dipertahankan sampi keujung langit sekalipun.”.Lelaki sederhana itu benar benar kini telah memiliki kekuasaan,ucapannya adalah suara kekuasaan,resonansinya mengandung konsekwensi pada dirinya dan pada para pemuda yang mau mendengarkannya.Lelaki itu telah menjadi manusia nomor satu,sudah sesuai dengan harapan dari mereka yang pernah  berteriak,hidup pak bupati,hidup pak bupati.

Kata orang,terutama lawan politiknya  menyebutkan bahwa  Bupati itu keras,tapi untuk  apa dia keras?Bukankah dia keras untuk rakyatnya,untuk mereka yang masih menganggap tanah ini adalah milik leluhrnya?.Beberapa orang yang mendatangi kantornya yang sederhana diibu kota kabupaten itu,lalu menyodorkan segala surat yang berkaitan dengan haknya atas tanah selatan,lalu meminta sang bupati yang baru terpilih itu, agar mendukungnya untuk mengelola tanah selatan,lalu bupati itu menjawab “tidak”,karena mereka bukan dari  leluhur mereka yang hidup dan besar di selatan.

Rombongan orang kota yang membawa sejumlah surat dan peta wilayah selatan,tidak digubris oleh bupati baru itu,karena masih terngiang sipongang,melilit dan membayangi nadi dan darahnya,”tanah ini adalah milik leluhurmu”,jangan kamu jual,jangan kamu berikan pada siapapun,ini adalah warisan leluhurmu”.Rombongan orang kota yaag membawa senjata berupa sejumlah surat ijin dari pemeintah diatas,tidak digubrisnya,lalu orang orang kota itu sangat marah,lalu melaporkannya pada pemeintah diatas dari gubernur sampai presiden.Bupati yang sederhana itu tetap mengatakan,tanah ini adalah warisaan  leluhurmu,tak boleh kamu jual,tak boleh kamu berikan pada siapapun.Kamu harus mempetahankannya bahkan sampai kaki langit sekalipun.

Orang kota yang disertai beberapa manusia berkulit putih dan berambut pirang,yang katanya akan membangun hotel,villa,rumah sakit internasional dan segala kemewahan,sekali lagi datang kepda Bupati sederhana itu sambil melaporkan seorang menteri akan datang,karena tempat itu sudah disetujui pemeintah pusat.Bupati itu tidak peduli  menteri siapapun yang akan datang karena itu bukan milik menteri atau milik orang kota,”tanah ini adalah warisan dari leluhurmu,tak seorngpun boleh mengambilnya dengan alasan apapun”,kata kata yang diucapkan lebih enam bulan lalu,disaksikan oleh ratusan orang dan didengarkan oleh Tuhan,dan hal itu adalah keyakinanya ,bahwa tanah ini memang milik mereka dan bupati harus berada bersama rakyatnya.Bupati itu dinilai,sombong,berani melawan pemeintah pusat,bupati keras kepala,tidak mengakui surat dari menteri,tidak mau hadir melihat wajah menteri yang diboyong para pemborong,yang digotong  dengan janji kosong,Hanya satu tujuan mereka ingin menguasai ratusan hektar lahan,lalu mereka jual kemewahan dan birahi,lalu mereka bawa  uang banyak dibawa pulang lalu janjinya memberi pekerjaan orang selatan,hanylah tipuan semata,lalu ijin datang dengan cepatnya,lalu uang pelicin menjadi hal biasa saja.Mungkin bupati itu sulit ditaklukkan dengan pelumas amplop uang.Tidak,tidak uang,tidak amplop,tidak pelumas.Tidak!.Karena ia teringat pada isi pidatonya di tanah lapang di tepi laut selatan itu.

Tahun ini,hari yang dinantikan datang lagi.Wakil leluhur orang Selatan telah menetapkan,hari Sabtu malam minggu pada bulan Jimadil pada tahun Dal,nyale akan keluar,putri mandalika akan keluar,akan mengorbankan dirinya demi keadilan bagi cicit dari leluhurnya,yang juga adalah leluhur putri yang  telah mengorbankan jiwa raganya atas nama cinta,kebenaran,keadilan,kejujuran,yang tak akan mentolerir kedurjanaan dan kemunafikan .Putri itu menceburkan dirinnya di laut selatan.

Malam ini,akan terulang kembali,tanah luas yang menghampar di pesisir pantai Selatan itu,akan bermandikan lampu remang remang, suara cekikikan para muda mudi dan pedagang dadakan akan menambah ramai gerombolan manusia yang tak tahu tujuan yang sebenarnya.Bau nyale,mereka yang akan bau nyale malam ini ,kini sedang tidur lelap  dan nanti ketika fajar tiba,mereka akan bergegas,menyapa dan menangkap sang putri nyale.Mereka yang berkumpul ditanah lapang yang luas,tak peduli nyale,untuk apa tdur?,untuk apa nyale ?.Ini malam gila,tak ada yang lihat,tak ada peduli,semua memilih tempatnya dalam malam yang remang,dalam semak yang gelap.Mereka bebas malam ini.Sekali dalam setahun,kata mereka.Malam ini,tanggal 21 bulan Jimadil pada tahun Dal sesungguhnya adalah malam yang sendu bagi putri nyale dan bagi tanah leluhurnya di tempat ini di Tampah Boleq ini.Putri mandalika sebenarnya enggan akan menampakkan dirinya diujung malam ini.Putri terus berfikir,apakh layak baginya akan menampakkan diri dihadapan manusia yang telah men odai kesucian,kebenarn dan rasa hormat?Putri cinta,putri kebajikan,putri yang mempetahankan kebajikan  dan keadilan itu  mungkin mengurungkan niatnya  untuk menjemput anak cucu dari leluhurnya,yang telah  meninggalkan pesan”Kutitipkan tanah ini,untuk kamu olah,untuk kamu nikmati bersama semua anak cucuku,jangan pernah kamu lalaikan,apalagi direbut orang lain,direbut para cukong,atas nama proyek,atas nama pembangunan,atas nama uang,kemewahan dan ketidak adilan.Dibelakang tanah ini,kutitipkan juga sebuah danau yang airnya jernih, jernih dengan ikan mujair yang banyak,untuk kamu manfaatkan,karena danau ini diturunkan dari sorga untuk leluhurku,untuk kamu semua wahai anak cucuku.Dibelakang Tampah Boleq Ini ,kutitipkan Bedah Embung untuk kamu muliakan dan untuk kamu jaga,jaga dari semua nafsu yang akan merebutnya.”.

Dan putri mandalika nyale benar telah memutuskan untuk tidak keluar menjemput anak cucu leluhurnya,tak mau memberi apapun untuk mereka yang telah menghianati cinta para leluhurnya.Mereka telah menukar tampah boleq dengan beberapa bungkus rokok dan beberapa bungkus janji,nanti kamu semua yang ada di tempat ini akan diberikan pekerjaan,bekeja sebagai tukang cuci piring, biar keren diberi tugas sebagai cleaning servise,menjadi satpam biar gagah digelari scurity,bahkan ada juga yang  akan diangkat menjadi pembersih kamar,hanya pakai bahasa inggris, house keeping supaya lebih gagah dan mentereng.Lebih tiga puluh tahun sudah,tanah Tampak Buleq telah berpindah tangan,telah dijual pada investor abal abal,mereka tidak mendapatkan lapangan kerja yang dijanjikan.Mereka tetap miskin.

Para petani pagi ini pulang dengan tangan hampa.”Ndeq araq  nyale,ndeq araq nyale”,dan mereka yang berkumpul di tampah buleq,tak peduli,karena mereka datang bukan untuk nyale,mereka datang hanya bersenang senang,berdagang atau hanya iseng saja.Petani pemilik hak atas tanah,budaya dan leluhurnya,pulang dengan kesal sambil mengumpat orang yang lalulalang ”kalianlah yang membuat sial nasib kami”

Putri mandalika nyale tidak datang pagi ini,mungkin telah pergi jauh,karena tak ada gunanya  berdiam disekitar Tampah Boleq,karena semua tanah leluhurnya telah berpindah tangan.Telah datang manusia baru yang bernama uang,janji,kemewahan.Tidak ada lagi tempat untuk disinggahi, semuanya telah dijaga oleh pemiliknya. Semua, dari Teluk Mekaki di sebelah Barat,Belongas,Pengantap,Selodong,Kuta,Tanjung Aan,Teluk Awang,Ekas,Kuang Rundun,bahkan mendekati gua raksasa telah dimiliki oleh David,Charles,Made,pak Mister,bahkan tanah kelahiran putri mandalika telah dimiliki oleh pak PT yang kaya raya.Cupak telah menjual semua tanah,lalu untuk apa putri mandalika terus berada disini?.selamat jalan putri,lalu terdengar suara tangis sedih diantara desir suara gelombang yang lemah,putri mandalika telah pergi,dan tidak ada nyale,lalu para petani,membuka bosangnya yang kosong.Wajahnya sendu,karena tidak dapat lagi memberikan persembahan pada dewi padi sebagai pernyataan sukur pada tuhan yang telah memberinya paer lauq untuk dijaga dan dinikmatinya.Mereka telah berdosa,karena mereka telah mengingkari semua pesan leleuhurnyas,lalu menukarnya dengan beberapa bungkus rokok,lalu semua tanah telah bepindah tangan .

Lelaki sederhana yang setahun lalu berpidato,”tanah ini adalah milikmu,milik para leluhurmu,kamulah yang berhak atasnya,karena itu jangan pernah dijual,dipindah tangankan.Kamu harus mempertahankannya bahkan sampai kaki langit sekalipun.Bupati itu tetap ingat orasi politiknya,.Lelaki bupati itu sedih sekali,ketika berkembang isu,dialah yang dituduh menjual tanah Tampah Boleq..

Senggigi, 12 April 2021

Menampilkan lebih banyak

Artikel terkait

Tinggalkan Balasan

error: Content is protected !!
Close
Close